Kabar itu selalu diiringi hujan badai yang amat lebat berhias kilat dan
petir. Semacam penguburan tumbal pada bukit-bukit yang dikeruk
perutnya. Tapi mereka yang masih selamat seperti tak punya jera.
***
Ia seorang guru di nagari1
kami. Guru yang cantik dan rupawan. Semua orang sayang dan kagum
kepadanya. Begitu pun aku. Sebab ia seperti perawan-perawan berjilbab
modis di sinetron-sinetron televisi. Ramah, anggun, dan pintar pula.
Lengkaplah sudah semua yang diimpikan laki-laki!
Namanya
Minang. Ya, Minang saja. Ada titel sarjana pendidikan di belakangnya.
Beberapa tahun lalu ia pulang kampung setelah menyelesaikan kuliah di
kota provinsi. Aku kini jadi muridnya di madrasah tsanawiyah. Sebuah
sekolah agama yang amat sederhana, filial2 dari sekolah di kota kecamatan. Di mana ketika ujian tiba, kami akan ke kota kecamatan untuk mengikutinya.
Ibu
Minang selalu mengingatkan kami agar tidak pernah ketinggalan pelajaran
dari murid sekolah yang ada di kota kecamatan. Ia tak mau mendapat malu
karena anak didiknya tak lulus ujian naik kelas maupun ujian akhir.
Sebab hal itu pertaruhan keguruannya.
Dia guru
satu-satunya yang mau bertahan di nagari kecil di lambung bukit ini.
Selebihnya tak pernah tahan. Yang lain pindah setelah satu atau dua
tahun bertugas dengan beragam alasan. Mereka memilih mengabdi di kota,
bukan di kampung kami. Beberapa tahun silam madrasah ini kerap tak
punya guru dan murid. Lalu gedung madrasah yang sederhana itu ditumbuhi
rumput liar.
Kehadiran Ibu Minang membuat
madrasah ini hidup kembali. Generasi kami bisa kembali sekolah.
Generasi yang tak mampu hijrah ke kota kecamatan atau kota kabupaten
untuk melanjutkan sekolah lanjutan pertama. Di nagari sendiri, sekolah
bisa sambil membantu orang tua.
Ibu Minang
mengajar semua mata pelajaran. Semua kelas. Inilah yang membuat
murid-murid terasa amat dekat dengan beliau. Setiap hari diberi ilmu
pengetahuan dan pemahaman tentang kehidupan.
Hampir
tiga tahun belajar dengan Ibu Minang yang anggun itu, aku banyak tahu.
Ibu Minanglah yang membuka pemikiran kami. Dan itu, diam-diam membuat
hasrat kecil laki-lakiku tumbuh. Memimpikan seorang gadis seperti Ibu
Minang. Pintar, cantik, ramah, dan aktif membangun nagarinya.
Ibu
Minang dari dulu memang sudah menjadi bunga nagari kami. Setiap acara
nagari, ia selalu di depan. Jadi pembawa acara, jadi ketua panitia, dan
lain sebagainya. Ia memang berbeda dari teman-teman sebayanya, yang
memilih menikah dan punya anak. Ibu Minang tampaknya belum juga menikah
sampai aku akan tamat dari madrasah ini.
Ibu
Minang anak Pak Imam. Imam di mushala kami. Anak semata wayang.
Disayang dan dikagumi orang nagari. Disanjung dan dipuja. Pintar dan
cantik. Kadang-kadang sebelum tidur, aku sering berkhayal tentang Ibu
Minang yang cantik dan akulah yang dipilihnya menjadi suami.
Tapi
dari dua puluh dua orang murid di lokalku, aku memang sering dipilih
untuk membantu proses belajar Ibu Minang. Misalnya, menulis pelajaran
di papan tulis pakai kapur. Lalu menghapusnya kembali. Aku suka
mengerjakannya. Bahkan, kalau ada yang nakal -beberapa teman di kelasku
memang nakal- menganggu Ibu Minang, akulah yang maju untuk
menyelesaikannya dengan alasan agar proses belajar tidak terganggu.
Oleh karena itu, aku memang patut dijadikan ketua kelas. Patut dekat
dengan Ibu Minang.
***
Aku tahu tentang orang yang mendapatkan hati Ibu
Minang. Dia bernama Dendi. Orangnya gagah. Sering datang pakai sepeda
motor dengan berpakaian dinas perusahaan tambang batu bara. Aku pikir
wajarlah Pak Dendi jadi pilihan dari banyak orang yang mengagumi Ibu
Minang. Ia memang beruntung daripada pengangguran di nagari kami yang
hanya mampu suit-suitan dari jauh. Pak Dendi punya wibawa tersendiri
dengan pakaian seragam perusahaan batu bara yang berada di ibu kota
kecamatan. Perusahaan yang telah membuat daerah kami sangat terkenal.
Setahuku,
sudah cukup lama hubungan mereka terjalin. Sejak aku sekolah di
madrasah ini dan mungkin jauh sebelum itu. Tapi hingga aku hampir
tamat, belum juga ada tanda-tanda mereja akan melanjutkan ke jenjang
pernikahan. Sering anak-anak menggoda Pak Dendi kalau ia datang
menjemput Ibu Minang. Pertanyaan dan pernyataan teman-teman nakal
sekali. Misalnya, menanyakan kapan melamar Ibu Minang. Berapa akan
punya anak. Aduh, kelewatan. Tapi, kalau Ibu Minang mendekat,
teman-teman akan diam dan lari. Takut pada Ibu Minang.
Kata orang-orang, hubungan mereka memang kurang disetujui mamak3 Ibu
Minang. Sedangkan ayah dan ibunya, setuju-setuju saja. Mereka
menyerahkan semua keputusan kepada Ibu Minang. Karena keputusan yang
diambil oleh orang seperti Ibu Minang pastilah keputusan terbaik bagi
masa masa depan dirinya.
Aku maklum, peran mamak dalam kekerabatan di daerah kami memang sangat dominan daripada peran ayah. Ayah hanyalah bak abu di atas tunggul4 di dalam sistem kekerabatan matrilinial5. Sedangkan mamak melebihi peran itu untuk mengatur kemenakan dalam keluarga besar mereka. Mamak menjadi tempat mengadu dan segala urusan keluarga dipulangkan. Di tangan mamak pula penyelesaian diharapkan.
Kabarnya, selain tidak setuju dengan Pak Dendi, mamak Ibu Minang juga telah punya pilihan sendiri buat kemenakannya6. Yang satu ini, mungkin sisa-sisa dari masa Siti Noerbaja7 dulu. Di mana perjodohan masih berlangsung untuk mereka yang dianggap pantas diperlakukan seperti itu.
Tetapi,
aku yakin, soal ini Ibu Minang pasti akan memberontak. Sebab, karakter
Ibu Minang punya prinsip dan pendirian kuat. Berani menolak hal-hal
yang tidak sesuai dengan pemikirannya. Pemikiran yang sudah jauh
berkembang daripada pemikiran mamak-nya.
Alasan
lain, yang aku kira dibuat-buat, Ibu Minang anak tunggal yang tak
mungkin bersuamikan orang luar, apalagi sampai membawa pergi dari
nagari ini. Nah, Pak Dendi memang pendatang dari Sumatera Utara, berdarah Jawa. Bekerja di perusahaan tambang batu bara.
Begitulah
cerita di nagari kami berkembang sampai hubungan mereka begitu-begitu
saja beberapa tahun ini. Pak Dendi sudah berusaha melakukan penjajakan
untuk melamar tapi belum ada tanda-tanda restu atas hubungan mereka
dari mamak Ibu Minang.
Aku kadang-kadang
berkhayal ingin seperti Pak Dendi. Punya sepeda motor dan berbaju
dinas. Senang bercampur bangga menjemput bunga nagari di madrasah dan
mengantarnya pulang. Atau mengajaknya jalan-jalan sebentar ke kota
untuk mereguk kebahagiaan bersama-sama. Tiba-tiba aku ingin cepat besar
dan melangkah ke kota meraih harapan-harapan yang ada dalam kepalaku.
Namun
semua itu patah ketika aku teringat, aku tak mungkin melanjutkan ke
jenjang pendidikan berikutnya. Aku sudah punya tugas untuk menolong
ayah dan ibu bekerja untuk biaya adikku masuk madrasah. Liurku terasa
pahit aku telan. Hidup sering tak sesuai dengan pengharapan di nagari
kami ini.
***
Namaku Deni Setia. Sering aku selipi huruf ''D''
biar menjadi ''Dendi''. Ibu Minang sempat tersenyum ketika tahu aku
mengutak-atik namaku jadi begitu di buku catatan yang diperiksanya di
depan kelas. Ia geleng-geleng kepala, tersenyum manis. Manis sekali.
Aku puas dengan kenakalanku itu. Ketika hal ini aku ceritakan kepada
teman-teman, mereka menyorakiku: Tak tahu diri! Tukang berkhayal!
Kurang ajar! Aku tak peduli. Aku kreatif. Begitu kata Ibu Minang suatu
hari.
Aku suka belajar bahasa dan sastra. Aku
belajar menulis puisi. Satu puisiku mendapat nilai tertinggi dari
teman-teman sekelas. Ibu Minang sangat terkesan dan membawanya ke kota.
Lalu mencetaknya dengan kertas dan huruf besar. Diberi bingkai.
Diletakkan di kelas. Aku bangga sekali.
***
embun turun ketika segenap pipit bernyanyi
tentang kami masih pagi meraup mimpi
hasrat itu berbisik pada malam-malam penuh bintang
dan kunang-kunang sampai pungguk berbunyi:
engkau hadir melampau batas hasrat!
memberi sekat dekat!
tanah kita gembur ditanam apa saja
tapi bara jadi mutiara
dan kami menunggu
gemulai langkahmu
belaian tanganmu
pada batas yang kami miliki
Nagari Talawi, pada Purnama ke delapan
Buat Ibu Minang Tercinta
Itulah karyaku yang membuat Ibu Minang tersipu-sipu.
Tidak
hanya ilmu pengetahuan yang diberikan Ibu Minang kepada kami, namun
juga kabar berita terbaru. Di sela-sela menyampaikan pelajaran, ia bisa
menyelipkan berita-berita terbaru yang tak pernah kami tahu sebelumnya.
Yang terbaru, tentang kepergian perusahaan
tambang laksana peluit terakhir kereta yang membawa batu bara. Menjerit
perih menyayat jiwa, meninggalkan jejak kenangan berdebu di hati kami.
Perpisahan memang mematah segenap harapan.
Ibu
Minang menceritakan kepulauan Sumatera. Penduduknya. Sampai cerita
tentang daerah yang kami huni. Kami hidup di atas emas hitam bernama
batu bara. Daerah kami kaya raya rupanya. Tapi entah kenapa nagari yang
kami huni masih miskin juga. Akses jalan ke kota belum juga diaspal.
Masih tanah merah.
Beberapa waktu setelah itu,
baru aku tahu, kepergiaan perusahaan tambang batu bara itu ternyata
menyertakan Pak Dendi. Mereka pergi ke daerah tambang yang paling
menjanjikan di selatan sana.
Maka, benar apa
yang dikatakan Ibu Minang waktu itu, kepergian itu akan membuat kota
kecamatan lesu darah. Tak lagi bergairah. Semua seperti kena debu dari
gerbong yang tak lagi bernyanyi membawa emas hitam itu. Debu yang
membuat lesu.
Seiring dengan kepergian
perusahaan batu bara itu, warga menambang sendiri di lokasi yang
ditinggalkan para pekerja. Jika selama ini mereka menambang
sembunyi-sembunyi di tempat yang sepi, kini penduduk berani beroperasi
terang-terangan. Meletakkan tumpukan batu bara di tepi jalan. Mereka
menggali dan menggali dengan alat seadanya: pacul, linggis, sekop,
parang, dan alat sebangsa itu. Membentuk gua-gua di bukit-bukit daerah
kami.
Sehari, dua hari, sebulan, dua bulan, dan
seterusnya, kami makin sering mendengar orang mati tertimbun ketika
sedang berada di dalam gua. Kabar itu selalu diiringi hujan badai yang
amat lebat berhias kilat dan petir. Semacam penguburan tumbal pada
bukit-bukit yang dikeruk perutnya. Tapi mereka yang masih selamat
seperti tak punya jera.
Batu bara memang tetap
jadi emas hitam yang laku dijual. Kini tengkulak pengumpul yang datang
membawa truk ke lokasi tambang. Langsung membawa uang. Dibayar lunas.
Penambang liar yang selama ini jadi pengangguran sangat terbantu.
Mereka bersemangat untuk mendapatkan uang dari tengkulak. Malahan sudah
ada yang berani berhutang. Mereka dililit nasib harus menjadi manusia
gua siang dan malam. Sedangkan uang yang didapatkan tak dapat mengubah
nasib.
Dan, tahukah kau, sepupuku jadi tumbal
tambang itu. Ketika mengikuti ayahnya bekerja, ia tertimbun di sana.
Jasadnya tak pernah kembali. Sejak itu aku tak boleh sekali-kali
mendekati lubang itu. Lubang yang menyimpan harapan dan misteri.
Satu
lagi yang membuat sedih hatiku sejak perusahaan tambang itu pergi.
Sayur-sayuran dari kebun emak tak lagi dibawa ke kota. Tak ada tauke
sayur menjemput karena memang tak laku dijual lagi. Tak ada yang mau
membeli. Selama ini, pelanggan sayur-sayuran dari kebun emak adalah
ratusan karyawan perusahaan tambang yang kini sudah kena Pemutusan
Hubungan Kerja (PHK). Mereka tak lagi punya gaji. Sebagian sudah pergi,
sebagian lagi mungkin sedang merenungi diri.
Cerita
Ibu Minang siang itu terus menganga dalam kepalaku. Terus teringat
seperti teror yang menakutkan. Kepergian itu ternyata mengerikan.
***
Bukan hanya Ibu Minang yang merasakan pahit itu.
Mereka yang ditinggalkan merasakan kepiluan tak bertepi. Sepi laksana
danau kering bekas galian tambang luar di setiap sudut kota. Menganga
luka ditingkahi debu-debu yang beterbangan dan hinggap menjadi daki.
Aku
telah membaca buku-buku tentang daerah di mana aku dibesarkan ini.
Buku-buku pemberian Ibu Minang. Buku sosialisasi dari perusahaan
tambang itu. Di situ disebutkan, daerah kami terbangun dari batu bara
sejak zaman Belanda menjajah Nusantara. Sejarah mencatat, sejak 1887,
batu bara sudah diproduksi oleh pemerintah Belanda. Sejak ditemukan
penjajah, orang-orang berbondong-bondong dijadikan pekerja paksa.
Separo hidup tertindas sedangkan yang lain hidup makmur. Pemerintah
Belanda memodali lebih kurang 5,5 juta gulden untuk membangun peralatan
tambang canggih waktu itu. Juga dibangun alat transportasi berupa
sistem perkeretaapian dengan biaya 17 juta golden sebagai alat angkut
dari daerah kecil ini.
Jalurnya menuju Pelabuhan
Teluk Bayur di Kota Padang. Kereta api mulai beroperasi 1887, tetapi
baru sampai Muaro Kalaban dari Kota Padang dengan jarak lebih kurang
180 km. Pada 1894 barulah bisa menembus Kota Sawahlunto dengan menambah
rel kira-kira 20 km lagi. Sejak itu transportasi lancar, produksi
meningkat dari tahun ke tahun. Puluhan menjadi ribuan ton per tahun
bisa digali dari perut bumi daerah ini. Belanda pernah meraih untung
terbesar 4,6 juta gulden pada 1920. Pada waktu itu, upah buruh paksa
hanya 18 sen per hari, dan dapat dikenakan sanksi hukum cambuk bagi
yang membangkang. Sedangkan upah pekerja kontrak 32 sen per hari dengan
fasilitas tempat tinggal dan jaminan kesehatan. Buruh bebas upahnya 62
sen per hari tanpa fasilitas apa apa.
Itulah nagari kami, yang terperosok ke balik bukit. Sedikit mendaki ke pinggangnya. Jalannya menanjak dan berliku.
***
Pak Dendi memang tidak lagi menjemput Ibu
Minang. Sedangkan Ibu Minang masih tetap tampak anggun, walau aku lihat
ada sedikit luka di telaga itu. Aku mampu melihatnya.
Sejak
kepergian Pak Dendi, banyak pemuda yang mendekati Ibu Minang.
Menurutku, mereka tak jauh berbeda dengan penampilan Pak Dendi. Malah
ada satu orang -lagi-lagi menurut penilaianku- yang aku restui untuk
mendapatkan hati Ibu Minang walau aku sangat sakit hati melihat
gayanya. Sombong. Dia anak orang terkaya di kota kecamatan.
Mengandalkan kekayaan orang tuanya untuk mendapatkan hati Ibu Minang.
Tapi, tampaknya Ibu Minang biasa-biasa menanggapi siapa saja yang
datang.
Ibu Minang memang orang berpendidikan.
Punya wibawa yang sulit ditaklukkan oleh laki-laki. Laki-laki harus
benar-benar memiliki mental dan modal yang melebihi dari apa yang
dimiliki Ibu Minang. Harus punya sikap dan wawasan yang bagus jika tak
mau terlempar oleh logika yang terbangun sendiri. Cuma aku tak tahu,
yang mana pemuda pilihan mamak Ibu Minang di antara mereka. Aku tak dapat kabar itu.
Ibu
Minang itu pintar. Mungkin itu pula yang membuatnya bisa membaca rona
setiap orang yang mencoba mendekatinya. Dan tampaknya ia masih
menyimpan rasa sayang pada Pak Dendi. Mungkin rasa itu tidaklah mudah
pergi seperti kepergian perusahaan tambang dari nagari kami. Ah, Pak
Dendi, kenapa kau kecewakan Ibu Minang? Apa karena kalian berdua tak
berjodoh? Apa karena engkau pemuda pendatang?
Mungkinkah
Pak Dendi akan kembali menjemput Ibu Minang? Membawanya pergi dari
nagari ini? Kalau benar, aku akan kecewa sekali. Bukan hanya aku,
nagari ini akan kehilangan Ibu Minang. Atau Pak Dendi telah memutuskan
tidak akan menjemput Ibu Minang, lalu membiarkan Ibu Minang merana
seperti daerah kami merana ditinggal perusahan tambang itu? Apakah Pak
Dendi terlalu kecewa dengan tertutupnya hati mamak Ibu Minang
untuk menjadikannya menantu? Aku jadi berpikir keras untuk menjawab
hal-hal yang tak perlu aku tahu itu. Ah, entahlah. Aku jadi iba sendiri
melihat nasib dua sejoli itu. Aku gamang sendiri. Entah mengapa.
***
Beberapa hari belakangan hujan kerap turun
menyapu debu jalanan nagari. Jalan yang belum diaspal jadi licin. Hujan
memang tak ditingkahi denyar kilat dan petir. Pagi ini juga sedikit
masih rinai. Tapi hujannya lebih dahsyat daripada hujan badai yang
pernah ada. Aku merasakan ada yang bakal terjadi.
Dan
benar, kabar itu aku dengar dari emak yang baru pulang dari tepian
mandi. ''Ada yang tertimbun lagi,'' kata emak. Sebuah kabar yang
menjadi basi. Namun kabar belum berhenti.
''Ibu Minang jatuh dari ojekan, kabarnya luka parah,'' aku terperangah.
Belum
usai resah di hatiku berserakan, kabar itu melaju ke telingaku. Ibu
Minang tak hanya terjatuh, ternyata juga diserempet truk yang turun
membawa batu bara dari penambang liar. Menabrak sepeda motor tumpangan
Ibu Minang yang baru jatuh itu. Tubuh perempuan anggun yang selalu jadi
inspirasiku itu remuk tak berbentuk.
Aku
limbung. Terhempas sesuatu yang aku tak mengerti. Sulit tersingkap.
Kehilangan itu tak sekadar hilang. Kepergian itu juga tak sekadar
pergi. Tetapi menanam perih dan melumat jiwa sampai melepuh. Nagari
kami mungkin dituliskan untuk selalu kehilangan. Entahlah! ***
Sawahlunto 2006-Padang 2008
"Turut Berduka untuk korban Tambang Dalam". ***
Endnotes
1 Nagari adalah pembagian wilayah administratif
di Provinsi Sumatera Barat di bawah kecamatan. Istilah "Nagari"
menggantikan "desa", yang sebelumnya digunakan di Sumatera Barat,
seperti halnya di provinsi lain di Indonesia. Sebuah nagari dipimpin
oleh wali nagari.
2 Cabang
3 Paman dari pihak ibu.
4 Sebuah pepatah dengan maksud: tidak punya peran dan mudah terbuang dari kekerabatan isteri.
5 Sistem kekerabatan yang menganut garis keturunan ibu. Lawan dari Patrilinial, susunan kekerabatan menurut garis keturunan bapak.
6 Keponaan, anak dari saudara.
7
Tokoh utama dalam novel berjudul asli Siti Noerbaja karangan Marah
Roesli yang diterbitkan oleh Balai Pustaka di era 1930. Dengan latar
belakang adat budaya Minangkabau, novel ini berkisah tentang percintaan
sepasang kekasih, Siti Nurbaya dan Syamsul Bahri yang gagal karena
keadaan dan budaya pada masa itu. Menyebut zaman Siti Nurbaya, asumsi
yang tertangkap, perjodohan yang diatur oleh hegemoni keluarga, bukan
atas azas hubungan percintaan sepasang kekasih.
|