Selangkah lagi cita-citaku untuk melanjutkan kuliah S-2 tercapai.
Beasiswa dari Laiden itu jawaban pasti dari gelora di dada selama ini.
Semua seperti sudah di depan mata. Tak lagi aku perlu berangan-angan
dari waktu ke waktu seperti Pungguk yang terus merindukan bulan.
''Mak, aku dapat beasiswa kuliah S-2 dan mungkin juga S-3 di Belanda.'' Aku kirim pesan pendek ke handphone adikku, Rai, di Sawahlunto. Aku yakin akan disampaikannya kepada emak.
''Selamat.
Semoga sukses selalu,'' begitu balasan pesan pendek itu datang. Ya, aku
bahagia mendengar jawabannya. Walau sebenarnya aku ingin jawaban yang
lebih; boleh atau tidak aku pergi kuliah di negeri kincir angin itu. Ah, biasanya Rai sedang tak di rumah.
***
Jika saja ayah masih hidup, pastilah ia amat bangga mendengar
berita kesuksesan ini. Dan, tentu akan mengizinkan dengan senang hati.
Karena ayah sadar betul tentang pentingnya pendidikan untuk
anak-anaknya. Ia pernah menyatakan, biarlah ayah dan ibu bekerja keras,
yang penting kami anak-anaknya selalu belajar dengan rajin. Tapi, ayah
tak ada lagi, telah pergi ke kampung orang mati. Hidup di sana bersama
dengan yang lain. Sebuah perkampungan yang sepi.
Dan, aku juga ingin jawaban; emak begitu mengizinkan dan akan selalu mendoakan untuk kesuksesanku. Tapi emak, mungkinkah ia mengizinkan?
***
Kepastian aku akan berangkat dua bulan lagi datang dari Pak Yulizal Yunus, dekan Fakultas Ilmu Budaya tempat aku mengajar.
''Saudari
Fiani, kau harapan dari fakultas ini untuk antropologi dan politik.''
Begitu komentar Pak Yuyu, demikian kami se-fakultas memanggilnya.
Setelah memberikan ucapan selamat dan menandatangani seluruh
rekomendasi, Pak Yuyu juga mengeluarkan beberapa lembar uang seratus
ribu untukku. Aku menolak, tetapi ia memaksa agar aku menerimanya. Apa
boleh buat, aku harus menerimanya dengan malu-malu mengucapkan terima
kasih. Lalu aku berlalu dari ruangannya.
Sebenarnya, beasiswa
dari perguruan tinggi dari negeri Belanda itu cukup banyak. Hanya saja,
selain persaingan yang ketat, memang kemampuan berbahasa asing dan
wawasan keilmuan haruslah melebihi di atas rata-rata.
Aku
memang termasuk perempuan yang berambisi untuk mendapatkan beasiswa.
Selain rajin membuka situs internet khusus mencari informasi beasiswa,
aku juga punya kenalan di beberapa institusi di Belanda. Seperti Bang
Suryadi, yang rajin mengirim kabar lewat email kepadaku. Dia staf
pengajar di mana aku nanti akan melanjutkan kuliah. Dia sudah belasan
tahun tinggal di sana.
''Pokoknya jangan kuatir untuk hidup di
sini. Semuanya menarik untuk dipelajari dan dicermati.'' Begitu salah
satu tulisan Bang Suryadi kepadaku. Ia juga mengucapkan selamat atas
keberhasilanku menjadi mahasiswa di Universitas Leiden.
Rasa
cawan di tepi bibir. Aku tak tahan lagi ingin segera berangkat. Tetapi
masih terlalu lama. Satu bulan lagi. Dan, setidaknya aku harus pulang
untuk pamit kepada keluarga dan kaum kerabat di kampung halaman. Sebuah
kampung kecil di lintasan Sumatera, bernama Silungkang. Sebuah kampung
yang pada masa pergerakan melawan Belanda menjadi pusat peperangan.
Sebelum ada pergerakan kemerdekaan, pada dekade 1880, kampungku itu
adalah pusat pemerintahan Belanda. Begitulah yang aku tahu tentang
kampung halamanku. Dan, kakek dari kakekku menurut cerita, punya peran
penting dalam pemerintahan Belanda. Walau akhirnya membelot dan menjadi
pemasok karaben (jenis
senjata api) pada waktu itu. Sayangnya, tak ada arsip tertulis tentang
ini. Kata orang, arsip terlengkap di dunia itu ada di museum Belanda,
aku berminat untuk mencarinya nanti.
Waktu aku kecil pernah
melihat benda itu dipegang oleh paman, setelah itu raib entah ke mana.
Karena rumah tua kaum kami roboh dan didirikan rumah baru di atasnya.
Rumah itu, adalah rumah pamanku.
***
Aku berniat untuk pulang, minta izin berangkat ke negeri impian
para sejarawan itu. Setidaknya, aku harus berada di rumah, dua atau
tiga hari di rumah. Tetapi, susahnya, jadwal menjelang berangkat amat
padat. Dua minggu lagi akan masuk jadwal ujian semester untuk mahasiswa
yang aku ajarkan. Tentu aku harus menyiapkan materi ujian, lalu
memeriksa hasil ujian dan memberi nilai kepada mereka.
Sedangkan pada masa libur tenang aku harus ke Bukittinggi, jadi pembicara seminar Sejarah Boekittinggi Masa Belanda
yang digelar sebuah universitas swasta di sana. Sementara itu,
persiapan paspor dan segala macam surat-menyurat, mulai dari rektor,
departemen dan kedutaan belum semua selesai. Sungguh, kini aku
dihadapkan setumpuk tugas penting.
Soal tugas yang setumpuk
itu, aku tidak pernah mengeluh. Sebab, aku justru kadang-kadang bingung
kalau hanya melakukan pekerjaan rutin. Hanya saja, menyelip jadwal
untuk pulang kampung memang selalu susah. Apalagi ia jarang menjadi
prioritas. Aku memang malas pulang kalau tidak penting sekali. Bukan
apa-apa, di kampungku, aku tak lagi punya teman sebaya. Kalau pulang,
paling-paling bertemu ibu lalu bercerita panjang lebar. Itupun kalau
dihitung hanya membutuhkan beberapa jam saja. Tak heran, bila aku
pulang ke Silungkang, aku sering suntuk sendiri. Lebih-lebih Rafi sudah
jarang di rumah. Ia sudah punya usaha yang makin maju. Pulang ke rumah
kalau waktu makan tiba saja. Itupun kalau ibu memasak masakan
kesukaannya. Oleh karenanya, bagiku, pulang hanyalah sesuatu yang tak
penting pada hari-hari biasa. Kecuali kalau Lebaran atau libur panjang.
***
Waktu terus bergerak. Hari keberangkatan itu rasanya amat
dekat. Sebagian tugas dan surat-menyurat sudah beres. Kini, aku banyak
menyiapkan wawasan tentang Kebelandaan. Selain membaca bahan-bahan yang
sudah lama aku kumpulkan, aku juga mencari informasi terbaru yang
sedang dibicarakan di Belanda. Mulai dari Ruud Gullit hingga Kluiver
dan Ronaldo. Ya, bintang lapangan hijau itu menyita perhatianku.
Kadang-kadang aku ini lucu, sepak bola Belanda juga jadi perhatian. Tapi, aku pikir ini tidak salah, toh
kini begitu banyak perempuan gila bola ketika olehraga satu ini masuk
ranah industri dan selebritas. Lihat saja, para bintang lapangan hijau
itu juga banyak digandrungi perempuan. Tak salah memang, mereka juga
layak jadi bintang di luar lapangan. Poster di kamarku pun seorang
bintang Christian ''Bobo'' Vieri.
Agaknya, aku benar-benar
telah jatuh hati dengan negeri itu. Apakah itu ada sangkut-paut dengan
kampung halamanku yang pernah menjadi tempat hidup orang-orang Belanda
yang bertugas di sana? Atau apa ada hubungan dengan batu bara di
Sawahlunto, yang ditemui oleh orang Belanda paro abad ke-19 itu? Ah,
aku makin jauh saja berkhayal sejak menerima kepastian lulus tes
beasiswa itu. Semua hal tentang Belanda dalam kepalaku rasanya belum
cukup mampu untuk menyambut kehadiranku di sana nanti.
Aku tak
mau terjadi hal-hal yang memalukan. Aku benar-benar takut itu terjadi.
Aku pernah membaca bagaimana pengalaman pertama orang-orang Indonesia
ketika belajar di negeri seribu museum itu. Mulai dari tata
transportasi sampai berbelanja. Mulai dari pengetahuan soal musim
sampai persiapan yang harus dipenuhi untuk menghadapinya. Semua aku
pelajari dengan seksama. Tak ada kata-kata untuk menyerah untuk itu.
Itulah cara dan tekadku sejak kecil.
''Kenapa orang Belanda
itu maju dan cerdas? Karena tekun belajar. Kenapa mereka sampai
menemukan batu bara di Sawahlunto? Karena mereka orang-orang pintar,''
begitu nasehat ayah yang masih terngiang.
Begitulah cara ayah
mengajar aku dulu. Ayah amat keras kalau soal pendidikan. Ia orang yang
sadar akan kemajuan karena pendidikan. Diam-diam aku bersyukur punya
ayah yang keras mengajar aku dulu. Walau dulu terasa pahit, ternyata
sekarang manis rasanya. Coba saja kalau ayah tidak begitu, mungkin aku
tak bisa menjadi staf pengajar seperti sekarang. Pastilah aku hanya
menjadi ibu rumah tangga yang tua sebelum waktunya.
Ayah terus mendorong semangat belajarku. Sehingga aku selalu juara di kelas. Mendapat hadiah di akhir menerima raport.
Sayang, ayah terlalu cepat pergi karena sakit yang dideritanya. Kalau
saja ayah masih ada, aku sudah jadi staf pengajar, tentu aku mampu
membawanya ke rumah sakit yang lebih canggih. Inilah sesal yang
kadang-kadang melintas di benakku. Sesal yang tak berguna lagi. Basi.
***
Benar. Aku tak dapat pulang ke Silungkang. Selain hanya
terpatri pada niat, aku memang tak sedikit pun membuat usaha agar bisa
meluangkan waktu untuk bisa pulang hanya sebentar saja. Kini aku telah
di ruang tunggu, menunggu keberangkatan. Transit di Changi Internasional Airport
Singapura dan langsung ke Belanda. Aku senang membaca berulang-ulang
sebuah nama Fiani Nuraini, Ms, tertera di tiket pesawat. Nama yang
indah pemberian ayah.
''Kata emak, kakak anak perempuan. Umur kakak sudah berkepala tiga. Emak ingin kakak menikah dulu.''
Aku
lemas seketika setelah membaca pesan pendek dari Rai. Bersamaan dengan
itu, panggilan dari operator penerbangan agar penumpang menaiki pesawat
telah terdengar.
Aku, ruang tunggu, langit biru, dan
orang-orang yang berlalu, seperti memaksaku untuk tetap termangu. Diam
di antara dua pilihan pahit. Ke mana harus berguru ketika terhenti di
simpang ragu? Deru mesin pesawat terasa menghantam dadaku.
Tenggorokanku kering, pandanganku nanar. ***
Minangkabau Internasitonl Airport, Juni 2007
*) Kado buat Andinda Dyan Nurdin Sumenep di Surabaya
|