Logo Sriti Home | Cerpen | Tentang | Kontak
 


 








 
 

Punah

Cerpen Alizar Tanjung Silakan Simak!
Dimuat di Jurnal Nasional Silakan Kunjungi Situsnya! 07/18/2010 Telah Disimak 505 kali

 

"Punah!, punah!," Tek Dar mencak-mencak di dapur kayunya. Ia hempaskan piring di dapur. Terlompat kucing yang sedang tidur di ruang depan. Ayam dalam kandang pun ikut beributan. Sesekali ia ambil kayu di atas kasayan. Dengan hati yang panas ia masukkan kayu api ke dalam tungku. Terpencarlah sebahagian nyala. Tapi apalah yang mau dipedulikan Tek Dar. Yang ia pedulikan telah pergi.

"Anak siampa! Anak yang tidak membalas guna," kata Tek Dar. Ia ambil kayu yang halus-halus di atas kasayan. Kayu rinju yang sudah kering. Kembali ia silang ke dalam ruang tungku. Dengan hati yang marah ia hempaskan satu piring. Rupanya jantung Tek Dar benar-benar berdegup cepat karena ulah anaknya si Mandaro. Anak satu-satu yang tinggal di rumah kini harus pula tidak mendengarkan kata-katanya. Percuma ia besarkan kalau hanya jadi petaka. Ibarat membesarkan simiang-miang. Sudah besar meninggalkan gatal.

Tek Dar duduk di atas kukuran kayu--alat parut kelapa tradisional--.Tak sangguplah rupanya ia memikirkan anaknya si Mandaro. Betapa si Mandaro telah membuat hatinya remuk. Hancur menjadi berkeping-keping. Tinggal puing benci. Tinggal puing nista di matanya. Tak ingin ia lihat batang hidungnya lagi. Terlalu pongah buat dikenang segala perbuatan anaknya.

Sudah patutkah ia pandai-pandai pula tak mendengarkan kata amaknya ini; kata Tek Dar. Ia pandang piring yang pecahannya menyelip ke sudut dapur. Sebahagiannya telah pula masuk ke dalam niru yang berisi tomat, cabai, kentang, seledri, jahe, kunyit, lengkuas, limau asam. Rupanya kemarahan Tek Dar tidak hanya memporakporandakan piring. Kemarahan Tek Dar memporakporandakan juga bumbu dapur. Terbuang sudah sebahagian tomat dalam niru. Tertumpah ke dekat tungku yang periuknya sedang terjerang di atasnya. Masuk sebahagian ke dalam abu tungku yang satunya lagi.

Tek Dar lihat ke pagu dapurnya. Betapa semuanya telah hitam oleh arang, asap-asap yang telah mengepul untuk sekian waktu. Siapa lagi yang akan membangun dapur reot ini kalau si Mandaro harus pergi. Teriris hati Tek Dar. Tempat tumpangan dirinya kini harus pergi. Mesti ada pula fondasi rumah yang akan melapuk. Telah pula ada jenjang-jenjang yang tidak akan tertempat.

Di atas Rumah Gadang, Mandaro hanya terpaku. Ia pandanglah keluar jendela. Ia masih duduk bersila. Teriris pula hatinya mendengar Tek Dar, Emaknya yang mencak-mencak di dapur. Betapa pula Mandaro telah mendengar umpatan Tek Dar tentang dirinya yang tidak membalas guna. Benarkah dirinya tidak membalas guna? Ah, betapa semua ini begitu menyesakkan dada. Ia hirup satu batang rokok nipah yang baru saja digulung. Berkelebatlah asap dari dua tempat. Satu dari hidungnya. Satu dari ujung rokok nipah.

Ia pandang keluar jendela. Ke jalan yang menuju tikungan. Hilang di balik Bukit Sianok. Tempat yang juga ingin ia lalui. Tapi, kini belumlah mampu ia melunakkan hati Emak. Betapa ia ingin mengikuti jejak Salim, kakak tertuanya yang telah pergi ke rantau, Bandung, semenjak lima tahun yang lalu. Kabar dari orang yang pulang ia telah menjadi orang di sana. Ia ingat pula Badrun, kakak nomor dua yang merantau ke Malaysia. Menurut kabar orang yang telah kembali dari sana, semenjak Badrun menjadi TKI tujuh tahun yang lalu, ia telah berubah peruntungannya. Telah menjadi bos di sana. Betapa Mandaro ingin seperti kakak-kakaknya. Menjadi orang yang beruntung di rantau orang. Ia ingat pula adik satu-satunya, Fatimah. Setelah menikah dengan orang kenalannya di Padang tiga tahun yang lalu, rupanya Fatimah kini telah menjadi orang yang mapan.

Mandaro pandang sekali lagi, senja yang rupanya telah tampak di langit. Sudah mulai merah langit di atas danau bawah sederetan Gunung Talang itu. Betapa semenjak dua tahun yang lalu ingin pula merantau ke Tanah Jambi. Di mana anak Mamaknya sudah menanti. Katanya sudah ada pekerjaan yang menanti di Jambi. Tapi tidaklah ia sanggup pula memandang muka Tek Dar, Emaknya yang memerah ketika mendengar nama rantau.

***

"Mak, Man merantau ingin pula menjadi orang yang tahu peruntungan nasib." Begitulah kata Mandaro saat masih duduk di ruang tengah. Tek Dar masih basah dengan kainnya. Ia baru saja pulang dari sungai jauh arah utara Rumah Gadang ini. Dua beranak itu duduk berhadapan di Rumah Gadang. Di depannya terhidang setandan pisang yang sudah kuning-kuning.

Bukan sekali itu permintaan Mandaro hendak merantau ke negeri seberang. Ia berpikir di rantau ada peruntungan nasib. Tidak seperti di Kampung Karang Sadah ini. Di sini tentu jugalah meneruka tanah yang rekah-rekah. Menjunjung kayu dari balik puncang, bukit yang terjang di lereng barat dari Rumah Gadang ini. Dalam kampung, Mandaro berpikir betapa ia akan jadi seperti-seperti ini juga. Kalaulah pagi menyingsing lengan baju. Membawa satu cangkul di pundaknya. Mendaki ke balik puncak. Meneruka ladang Garogok.

Itulah setidaknya alasan kuat Mandaro, untuk mengubah cara hidup yang masih tradisional. Menjadi orang di rantau orang tentu menjadi orang yang dipandang dan dihargai kembali bila pulang ke kampung.

Sore itu ia ulang sekali lagi melunakkan hati Tek Dar. Untuk sekian kali dari yang sekian kalinya. Semoga lembut juga akhirnya. Tak pula ingin ia berangkat ke Tanah Jambi, kalaulah Tek Dar tak mengizinkan. Sebab itu pulalah sore-sore itu mereka duduk berhadap-hadapan.

"Mak, setelah aku sampai di tanah seberang ‘kan kusampaikan kabar Man ke Mak. Mak tak kan Man lupakan walau sejengkal dari kepala, sejejak dari melangkah kan kutanam baik-baik Mak dan nasihat Mak."

Pisang setandan belumlah tersentuh. Mak pandang keluar jendela. Di langit tampak cahaya matahari merekah merah di atas kabut.

"Mandaro, Mandaro, sudah cukup kakak-kakakmu dan adikmu yang menjadi pelajaran untuk Makmu yang renta ini. Cukuplah kau tinggal di kampung ini saja."

"Mak, tapi aku ingin pula mencoba peruntungan rantau, Mak. Di Jambi adalah anak Mak Sutan yang kan menanti Man, Mak," kata Mandaro meyakinkan Mak.

Mak diam. Betapa matanya begitu panjang menjalar ke masa lalu. Ada sesuatu yang mengungkit perih. Mandaro diam pula. Dua beranak itu tidak bicara beberapa lama. Mak ingat ketika dirinya untuk pertama kali ditinggalkan. Tak tanggung sedih hatinya. Betapa ia ‘kan kehilangan anak nomor dua. Kan pula tak terbau puncak hidungnya. Badrun hendak jadi TKW di Malaysia.

"Mak tak ingin kamu merantau Mandaro. Biarlah di kampung ini Kau teruka juga ladang peninggalan Bapakmu," kata Mak. Mak ambil sebuah pisang. Mengupasnya. Kembali menaruh kulit di atas piring. Biarlah anaknya ini yang bersamanya, kata hatinya. Tak sangguplah kalau aku harus berpisah dengan anak yang tinggal satu-satu di rumah ini, lanjut hatinya.

"Mak, aku ingin merantau, Mak. Aku ingin seperti Bang Salim, Bang Badrun...."

Terbuang pisang Mak dari tangan. Merah mukanya. Badrun tahu Tek Dar tak senang nama-nama itu disebut lagi di depannya. Ia pandang mata Mandaro. Mandaro tak sanggup memandang mata merah Tek Dar. Sangat tak ingin Mandaro melihat Tek Dar marah. Dengan mata yang masih merah Tek Dar langsung naik pitam.

"Tak usah kau bawa-bawa nama kakakmu itu! Sudah besar tak tahu diuntung. Anak yang tidak membalas guna...," sergap Mak. Di sisi lain ada hulu hatinya yang di sayap kecil-kecil. Benar kata orang, kasih ibu sepanjang jalan. Tapi, bagaimana dengan anak yang tidak tahu kasih sayang ibu.

"Kalau kau mau merantau juga, pergilah kau seperti kakak-kakak kau, seperti adik kau. Anak yang tak tahu diuntung itu. Lupa dengan ranahnya. Lupa mereka dari rahim siapa dilahirkan. Seperti orang tak beremak. Ke mana mereka selama ini? Mereka sangka Emak butuh uang mereka. Tidak! Tidak!" Pitam Tek Dar semakin naik. Ia langsung berdiri. Berjalan ke dapur.

"Mak...!"

" Tak usah kau panggil aku Mak! Aku bukan lagi Amak kau! Kau cari saja Mak lain seperti kakak-kakak kau yang mencari Emak di rantau orang." Mak mulai mengalirkan air mata. Makin lama makin deras. Emak terus berlalu.

"Anak yang tidak membalas guna, dulu dibesar dan dan dikasihsayangkan. Kini jangan kan tuk berkunjung satu sebulan satu kali, setahun pun tidak," kata Mak mencak-mencak di dapur. Terdengar suara Mak yang semakin menceracau sendiri.

"Sungguh susah membesarkan anak simiang-miang. Sudah besar kita yang digatalkan. Susah saja aku melahirkan banyak anak kalau nyatanya si anak tak tahu membalas guna." Terdengar bunyi piring yang berhamburan di dapur. Ada kentongan yang semakin deras bunyinya. Semuanya berhamburan seperti adegan penghancuran batu. Sesudahnya terdengar isakan Tek Dar yang semakin menjadi. Si Mandaro terpaku saja di ruang tengah mendengar serapah Mak.

"Anak yang tidak membalas guna. Benarkah?" kata hati Mandaro.

***

Di dapur Tek Dar masih masih di atas kukuran, tersandar di tonggak dapur. Mengalir air matanya.

"Anak yang tidak membalas guna, tidak dia dengar rupanya kata-kata induknya." Itulah yang ia katakan. Di tungku api menyala silau. Tak sadar Tek Dar, kalau api telah melumas rinju-rinju kering. Tak hirau Tek Dar ke panas api. Ia ingat-ingat kembali anak-anaknya yang ditelan rantau. Betapa pula sedih hatinya. Anak-anak yang tak berpulang semenjak bepergian.

***

"Emak, tak baik rupanya nasib kita di kampung ini. Tak tega pulalah aku melihat Emak bekerja sesaban pagi sesaban sore," kata Badrun suatu pagi. Emak sedang sibuknya menanam bawang prai di halaman depan. Halaman yang bersebelahan dengan kolam ikan. Tek Dar menghentikan kerja sejenak sambil menengok ke belakang. Tahulah Tek Dar apa yang dipikirkan anaknya itu.

"Bukannya Emak melarang kamu pergi ke Negeri Jiran itu. Tapi, tujuanmu terlalu jauh, Badrun," kata Emak sambil kembali melanjutkan menanam bawang prai. Sebatang-sebatang sudah tertanam pada tanah merah itu. Tanah yang baru saja diteruka Salim dua hari yang lewat.

Kemarin Badrun juga membicarakan niatnya saat sedang makan. Memang keadaan kampung yang semakin terkikis lahannya, membuat orang-orang berpikir dua kali. Tak terkecuali Tek Dar. Tak terkecuali Salim. Juga Mandaro yang ketika itu baru sedang selesai menamatkan SD-nya. Karena tiada biaya, Salim jadi anak yang tak berpendidikan.

Saat kering inilah orang-orang ramai membicarakan tentang kerja ke luar negeri. Badrun ingin mencoba peruntungan nasibnya.

"Tapi, apa kau sudah pikir-pikir benar, Badrun. Apa kau sudah bicarakan sama Mamakmu. Tentu Mamakmu juga harus tahu keinginanmu. Kita hidup bermusyawarah bernegeri." Tek Dar terus saja menanam bawang prai. Tinggal satu bandar lagi selesai sudah. Tapi, ada yang tak selesai. Kalau ia pergi ke rantau, tentu semakin susah pula kehidupannya di kampung, kalau di rantau Badrun belum peroleh peruntungan nasib.

Benar juga, pada akhirnya Badrun berangkat ke negeri seberang. Memang baik jugalah peruntungan nasib Badrun. Dapat ia berjuragan yang baik. Mula ia sebagai pelayan restoran. Terus jadi pegawai. Entah apalagi sesudah itu, Tek Dar tidak tahu.

Setiap bulan Tek Dar mendapat kiriman dari Badrun. Sudah setahun lamanya pengiriman itu lebih dari cukup. Dua tahun pengiriman itu masih juga berlebih. Tapi apakah yang lebih diharap orang tua selain kepulangan anak kandungnya. Begitu juga Tek Dar. Ia menunggu di Rumah Gadang.

Tak lama Salim pula yang pergi ke tanah Bandung. Katanya hanya pergi sebagai orang gajian supir truk dari kota Solok. Jadi dapatlah ia pulang sekali seminggu. Tapi, apa yang terjadi. Dua bulan kerja bersama majikannya memang Salim pulang sekali seminggu. Sesudahnya tak lagi terlihat puncak hidungnya. Entah dimakan apa Salim tak pernah pulang-pulang.

Suatu petang setelah tiga tahun kepergian salim datang jugalah sepucuk surat. Surat dari kabar nan jauh, tentang rantau. Bahwa salim telah mendapat kerja yang bagus di Bandung. Ia kabarkan bahwa dirinya telah punya rumah yang mewah dengan mobil yang mewah. Tek Dar tak berharap dengan semua itu. Asal anaknya pulang, maka beruntunglah dirinya.

Tak lama secara beruntun kabar gembira yang menyakitkan. Kalau surat yang hampir bersamaan Salim dan Badrun. Kalau keduanya telah menikah dirantau. Begitu sakit Mak mendengar. Sebab anak yang dibesarkan telah pandai mendahului orang yang dituakan di kampung. Tak tahu lagi mereka kepada Mamak. Ia hilangkan harga diri Tek Dar di kampung.

Sedang satu tahun sebelum kabar pernikahan Badrun dan Salim telah pula menikah Fatimah. Begitu sedih hati Tek Dar ketika tak pulang Salim dan Badrun. Begitu panjangkah rantau bagi mereka. Telah lupakah mereka dengan gaung kampung. Hingga datang kabar Badrun dan Salim yang melangkahi orang sekampung. Semakin dalamlah teriris hati Emak.

Waktu terus berjalan. Anak-anak seperti tidak berinduk. Tidak pula walau sekali dalam setahun. Tidak Badrun, tidak Salim, tidak Fatimah. Begitu jauh kampung Karang Sadah ini bagi mereka.

Begitulah Tek Dar menghapus daftar nama itu dari dirinya. Lebih baik tak beranak dari pada beranak tapi tidak pernah memilikki anak. Tapi kini tiba-tiba Mandaro meyenbut mereka. Mandaro menyebut pula rantau nan jauh. Untuk apa semua rantau. Tak ingin Tek Dar dengan loba dunia. Tak pula Tek Dar harap kalau Mandaro jadi orang berada. Untuk apa jadi orang-orang berada kalau harus kehilangan induk.

Lalu Mandaro. Ah, Mandaro yang hendak menuju kota Medan.

***

Mandaro masih duduk dekat jendela memandang Bukit Sianok. Masih jelas jalan tikungan itu. Langit di Timur sudah mulai gelap. Terdengarlah seruan bilal dari masjid tua di tengah kampung. "Ah, Emak." Geming Mandaro. "Begitu menderita Emak rupanya dengan kepergian Kak Salim, Kak Badrun, dan Dik Fatimah. Mungkin memang lebih baik aku tinggal saja di kampung bersama Mak," Guman Mandaro sambil berdiri. Tujuannya hendak berjalan ke pintu belakang. Sudah jelas keputusannya sekarang yang hendak menenangkan hati Tek Dar.

Mulailah ia masuk ke pintu belakang. Hendak menuruni tangga Rumah Gadang, Mandaro begitu disengat ke hulu hati. Ada api yang membumbung ke atap dapur.

"Emaaakkk!" Mandaro terus menjerit dan terus menjerit.

***

Lingkarputih, Padang, 23 Juli 2009


 

 

 

 


© 2002-2009 Sriti.com. All Rights Reserved.
Home | Tentang | Kontak