Logo Sriti Home | Cerpen | Tentang | Kontak
 


 








 
 

Bektijamal

Cerpen Gunawan Maryanto Silakan Simak!
Dimuat di Jawa Pos Silakan Kunjungi Situsnya! 08/19/2007 Telah Disimak 1210 kali

 

BEKTIJAMAL hanya mengenal wajah bapaknya dari lukisan-lukisan yang dipasang di dinding istana. Umurnya baru beberapa bulan ketika Lukmanakim, bapaknya, dimakamkan di taman makam pahlawan Kerajaan Medayin. Tapi, ia tak pernah merasa bahwa bapaknya telah meninggal. Sama sekali tidak. Seluruh orang yang ditemui membuat bapaknya seperti tak pernah mengenal kematian. Seluruh orang di Medayin masih mengenang kebaikan hati Lukmanakim. Dan menghidupkannya lagi lewat cerita-cerita. Kesaktian Lukmanakim bagi Medayin menjadi cerita yang tiada habisnya. Bagaimana ia bisa menguasai seluruh bahasa yang digunakan oleh seluruh makhluk yang tinggal di muka bumi, bagaimana ia mampu membaca pikiran makhluk lain yang berada di dekatnya, bagaimana ia bisa membaca masa depan dengan sempurna, dan yang paling menggetarkan, bagaimana Lukmanakim mampu membuat seseorang yang telah berusia lanjut kembali menjadi remaja yang segar-bugar. Di masa hidupnya, Medayin bebas dari orang sakit dan orang jompo. Bebas dari kegelapan masa depan.

Tapi semua itu seperti tak tersisa dalam diri Bektijamal. Ia tumbuh sebagaimana lumrahnya manusia. Tapi, karena mendapat pendidikan yang cukup di lingkungan istana, ia tumbuh menjadi seorang anak yang memiliki pengetahuan luas. Sepeninggal ayahnya, Bektijamal dan ibunya menjadi tanggungan keluarga istana. Bektijamal diangkat menjadi anak oleh Patih Abujantir, dibesarkan dengan perhatian dan kasih sayang yang sama dengan Eklaswajir, anak kandung patih Medayin itu. Kebetulan usia keduanya hanya terpaut beberapa bulan saja. Eklaswajir lahir beberapa bulan lebih dahulu daripada adik angkat terkasihnya itu.

Ketika Bektijamal menginjak usia remaja, Sarengas, raja tua Medayin, memanggilnya. Bektijamal belum pernah bertemu secara langsung dengan bekas raja Medayin yang begitu agung dan harum namanya itu. Konon, sepeninggal Lukmanakim, Sarengas segera mengundurkan diri dari tampuk kerajaan. Ia segera menobatkan Kobatsah, sang putra mahkota, meski masih sangat muda dan belum terlalu matang, untuk memimpin kerajaan sebesar Medayin yang membawahi lebih dari 4.000 kerajaan kecil yang lain. Tapi, begitulah yang terjadi. Kobatsah ternyata sanggup menanggung beban yang luar biasa berat untuk anak muda seusianya. Hal itu tak lepas dari bantuan Patih Abujantir dan punggawa-punggawa lain yang telah memiliki banyak pengalaman dalam pemerintahan sebelumnya. Keagungan Medayin tak menjadi berkurang oleh perpindahan kepemimpinan yang berlangsung dengan cepat dan tiba-tiba itu. Dan, kini, Sarengas, raja yang telah menjelma menjadi legenda hidup Medayin, memanggil Bektijamal ke ruang pribadinya.

"Masuklah, Bektijamal. Sudah lama aku menunggumu." Suara yang berat dan dalam itu menggetarkan hati Bektijamal. Bukan hanya karena demikian mengejutkan --Bektijamal baru saja menginjakkan kakinya di muka pintu saat suara itu menyambutnya-- tapi suara itu seperti memendam sebuah perasaan yang hampir-hampir tak terbahasakan olehnya. Semacam kesedihan yang sangat, yang sudah tersimpan dan tak terkatakan dalam waktu yang sangat lama. Semacam itu. Bektijamal menggamit gagang pintu dengan perasaan yang masih tak menentu.

"Duduklah di dekatku." Kembali suara itu menuntunnya. Membuatnya duduk di salah satu sudut paling temaram. Di hadapannya sesosok tubuh telah duduk terlebih dahulu. Tenang. Seperti telah duduk di sana dalam waktu yang cukup lama.

"Bagaimana kabarmu? Ibumu baik-baik sajakah? Ah, betapa cepat waktu berlalu. Terakhir kali aku melihat kau masih dalam gendongan ibumu. Dan sekarang kau telah menjelma menjadi seorang pemuda yang gagah. Mendekatlah, Nak. Biar bisa kulihat lebih dekat lagi anak Lukmanakim, lelaki terbaik yang pernah kutemui di muka bumi ini."

Bektijamal sama sekali tak sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Sarengas. Bukan karena tak punya jawaban. Tapi tiap kali hendak membuka mulut seperti ada kekuatan yang menahannya tiba-tiba. Keagungan bekas raja besar Medayin ini benar-benar telah menggugurkan seluruh kepercayaan diri Bektijamal. Ia hanya bisa mendengar. Tak bisa lebih dari itu. Pendengar yang terus-menerus tergetar.

"Kau tahu kenapa aku memanggilmu?" Bektijamal menggeleng pelan.

"Hari ini aku akan menepati janjiku. Janji yang pernah kuucapkan kepada ayahmu 17 tahun yang lalu. Tapi sebelum itu apakah kau sudah mengetahui apa yang terjadi pada diri ayahmu, peristiwa yang menjadi sebab kematiannya?" Sekali lagi Bektijamal menggelengkan kepalanya.

"Semua orang memang kuperintahkan untuk menyimpan bagian akhir dari kehidupan ayahmu. Tak terkecuali ibumu. Siapa pun tak boleh mengabarkan peristiwa itu. Selain aku. Di sebuah waktu yang tepat. Waktu yang telah kutentukan sendiri. Dan kini saat itu telah datang," bebernya.

"Aku menunggu sampai kau benar-benar siap untuk menerima kenyataan yang terjadi pada ayahmu. Mungkin kenyataan ini akan menjadi lain jika kau dengar dari mulut orang lain atau di saat yang lain. Itulah yang kujaga, juga kutakutkan, sepanjang usiamu, sepanjang aku duduk menyepi dalam ruangan ini. Aku ingin menceritakan kepadamu bagian akhir dari kehidupan seorang pahlawan bernama Lukmanakim. Aku sendiri yang akan menceritakannya kepadamu. Karena hanya aku sendiri yang bisa. Karena hanya aku sendiri yang bersama ayahmu di saat-saat terakhirnya. Aku menyimpan kematian ayahmu sendirian. Dan itulah alasanku memanggilmu sekarang."

Bektijamal benar-benar terpaku. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Keringat dingin merembes pelan dari seluruh pori-pori kulitnya. Dingin. Sedingin perasaannya. Sedingin lantai marmer yang memaku tubuhnya.

"Ayahmu mati terbunuh."

Bektijamal tak bereaksi apa-apa. Hatinya sudah terlampau dingin. Bahkan untuk mendengar kabar paling membakar sekalipun.

"Ia dibunuh oleh muridnya sendiri. Satu-satunya murid yang pernah dimiliki sepanjang hidupnya. Kau tentu telah mendengar betapa luas pengetahuan yang dimiliki ayahmu. Betapa ia memiliki kemampuan yang melebihi batasan manusia biasa. Tak kurang-kurang banyaknya orang yang datang ingin berguru kepadanya. Tapi dengan halus ayahmu menolak maksud kedatangan mereka. Bukan karena ayahmu tak ingin membagi pengetahuan dan kelebihannya. Sama sekali bukan. Ia hanya memegang janjinya kepada pemilik seluruh ilmu itu yang sesungguhnya. Ia tidak diperkenankan membaginya. Karena ilmu itu bukanlah miliknya pribadi. Ia hanya berhak untuk menggunakannya untuk kepentingan bersama. Ilmu itu tidak bisa diwariskan kepada orang lain selain kepada anak-turunnya sendiri."

"Suatu hari, sehabis melihat bagaimana ayahmu menjadikan seorang napi tua renta kembali muda dan bertenaga, ia mendekat dan mengutarakan keinginannya menjadi murid. Dan, ajaibnya, ia diterima. Entah setan dari mana yang mampu menggoyahkan hati ayahmu waktu itu. Aku tak tahu. Tapi ayahmu meminta waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Ayahmu sedang merencanakan untuk menikahi ibumu waktu itu. Ayahmu berjanji akan datang ke rumah si murid ketika kamu telah lahir.

Persis sehabis kamu lahir, sebuah peristiwa besar terjadi. Kelebihan ilmu ayahmu telah mengguncangkan keseimbangan semesta. Para malaikat di surga merasa terancam. Bagaimana tidak. Malaikat Pencabut Nyawa sama sekali tak bisa bekerja di Medayin karena seluruh warga Medayin tak lagi mengenal sakit dan tak bisa menjadi tua. Kemampuan ayahmu dalam membaca masa depan dianggap membahayakan seluruh rencana Tuhan. Akhirnya mereka memutuskan untuk menjegal ayahmu. Mereka mengutus Malaikat Jabarael untuk mencuri Kitab Kadamakna yang menjadi rahasia seluruh kepandaian ayahmu. Tapi, ayahmu mengetahui rencana itu. Maka terjadilah perebutan hebat. Karena sama kuat, kitab itu terbelah menjadi dua bagian. Sebagian tetap berada dalam genggaman ayahmu, sebagian lagi dibawa lari Malaikat Jabarael.

Meski demikian, ayahmu tetap memenuhi janjinya. Kalian sekeluarga pindah ke rumah murid tunggal itu. Dan, ayahmu mulai mengajarkan ilmunya. Ia mengajarkan bagaimana cara mengubah seseorang yang tua menjadi muda. Dengan tekun ayahmu membimbing sang murid untuk menghapal seluruh mantera. Sebenarnya mantera itu tertulis dalam Kitab Kadamakna di lembar-lembar yang berhasil dibawa lari oleh si Jabarael. Tapi karena sudah hapal di luar kepala, ayahmu tetap bisa mengajarkannya. Si murid menghapalkannya. Ia sama sekali tak boleh mencatat sebaris kalimat pun. Mantera-mantera Kadamakna hanya boleh ditulis dalam lembar-lembar Kitab Kadamakna. Begitu katanya. Lalu tibalah saat di mana murid harus mencoba mempraktikkan ilmunya. Ayahmu menyediakan diri untuk menjadi kelinci percobaan. Seluruh orang di Medayin sudah kujadikan muda kembali. Tapi siapa yang akan membuatku menjadi muda kalau bukan kamu? Kata ayahmu ketika si murid tidak berani mencobanya.

Semula segalanya berjalan lancar. Si murid adalah murid pilihan. Tak salah ayahmu menjadikannya sebagai satu-satunya murid yang akan mewarisi kepandaiannya. Hingga di saat terakhir ketika harus mengucapkan mantera penghabisan, untuk kembali menghidupkan tubuh ayahmu yang telah menjadi remaja kembali, hapalan mantera di kepala si murid tiba-tiba hilang. Sama sekali tak dapat diingat barang satu kata pun. Semakin ia berusaha mengingat semakin terasa bahwa ia belum pernah mendengar mantera tersebut. Sementara waktu yang tersedia untuk mengembalikan nyawa sangatlah terbatas. Begitulah. Sampai saatnya lewat mantera itu tetap tak terucap."

Bektijamal seperti terbangun dari tidur panjang. Ia seperti bisa melihat seluruh peristiwa yang diceritakan Sarengas. Peristiwa itu seperti kembali hadir di hadapannya. Ia bahkan seperti bisa menyentuh jasad bapaknya di penghujung cerita.

"Sebelum kejadian itu berlangsung ayahmu berpesan agar si murid mau merawat kamu dan ibumu jika sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi. Ia juga menitipkan Kitab Kadamakna agar diberikan kepadamu jika sudah sampai pada waktunya. Dan hari ini sampailah saat si murid memenuhi permintaan gurunya yang terakhir, menyerahkan Kitab Kadamakna kepada yang berhak menerimanya. Kamu."

Sarengas menyerahkan sebuah kitab tebal berwarna kuning tua kepada Bektijamal.

"Pelajarilah. Dan, gunakanlah untuk kepentingan masyarakat banyak. Jangan ajarkan atau serahkan kitab ini kepada siapa pun selain kepada anak-turunmu."

Bektijamal menerima Kitab Kadamakna. Ia tetap tak bisa berkata-kata. Kenyataan yang baru saja didengarnya sama sekali tak terbayangkan sebelumnya. Seluruh hal yang selama ini menjadi pertanyaan --meski tak pernah berusaha ditanyakannya-- mendapatkan jawaban. Kematian bapaknya telah terang-benderang. Ia sama sekali tidak menaruh dendam atau menyalahkan Sarengas atas kematian bapaknya. Tentu saja bapaknya telah tahu sebelumnya. Dan ia tak berusaha menghindar. Memang, ada satu hal yang belum terang. Kenapa bapaknya melanggar pantangan dan mengangkat Sarengas menjadi muridnya.

BEKTIJAMAL dan ibunya memutuskan untuk kembali ke desa. Mereka meninggalkan gemerlap kehidupan istana dan kembali menempati bekas rumah mereka. Dulu. Ketika Lukmanakim masih hidup. Eklaswajir melepas kepergian saudara angkatnya itu dengan tetesan air mata yang tak habis-habis. Mereka berjanji akan tetap saling mengunjungi dan tak memutus tali persaudaraan yang selama ini terikat dengan erat.

Demikianlah kisah Bektijamal. Sampai cerita ini selesai dituliskan, Bektijamal tak pernah membuka dan membaca Kitab Kadamakna. ***

Catatan:
Kisah ini berangkat dari Serat Menak karya R. Ng. Yosodipuro yang digubah dari Serat Menak Kartasura yang ditulis Carik Narawita dari khazanah sastra Melayu Hikayat Amir Hamzah yang diturunkan dari Qissa il Emir Hamza wiracarita dari Parsi.

 

 

 

 


© 2002-2009 Sriti.com. All Rights Reserved.
Home | Tentang | Kontak