Logo Sriti Home | Cerpen | Tentang | Kontak
 


 








 
 

Senja dan Perempuan yang Tersiksa

Cerpen Jusuf AN Silakan Simak!
Dimuat di Batam Pos Silakan Kunjungi Situsnya! 02/04/2007 Telah Disimak 1223 kali

 

Aku tercenung ketika tiba-tiba perempuan itu muncul dan duduk di bangku panjang. Bukankah masih banyak tempat yang kosong? Mengapa ia memilih duduk di depanku, dipisahkan meja panjang dari kayu yang warna peliturnya telah pudar.

Senja merah, seperti warna blus yang membungkus tubuhnya. Sekelebat mata aku menangkap bibirnya. Segar. Terselip sebatang mild yang menyala ujungnya. Ia menghisap batang rokok itu kuat-kuat hingga menimbulkan letupan-letupan kecil. Angin dari pesawahan mencakar rambutnya yang pirang kecoklatan, mengayunkan sepasang anting alumunium sebesar gelang di cuping kupingnya.

Dari dekat, aku bisa melihat jelas wajahnya yang ceria; senyum yang mekar bersahaja. Aku tak senang dengan pemandangan seperti itu. Aku lebih senang memandangnya ketika wajahnya memerah, sepasang mata yang gagap, dan gerak tubuh orang tersiksa.

Seorang pelayan bergaya rambut mohak membawakan secangkir kecil minuman pesanan perempuan itu. Tak lama, perempuan itu menyilir air dalam cangkirnya ke piring kecil. Melihat warnanya yang kecoklatan aku tahu, itu kopi susu.

"Sendirian?"

"Ya..," jawabku pendek sembari mendongak berat, sangat berat.

"Tidak ajak pacarmu?"

"Aku sudah beristeri," kataku.

Cukup terkejut, ia menyahut, "Maaf keliru," lalu tertawa ringan. "Istrimu tidak diajak kemari?"

Aku menjawabnya dengan tatapan mata.

"Maaf, kalau saya lancang."

Aku menggeleng. "Tidak, siapa pun berhak bertanya."

"Oya? Bukankah di negeri ini menggoda orang yang belum dikenal merupakan kelancangan. Apalagi seorang perempuan kepada lelaki yang telah beristeri."

Jika ia benar, tentu aku jauh lebih lancang. Ah, barangkali ia cuma berbasa-basi, mengambil ancang-ancang untuk bisa menikamku lebih kencang.

"Maaf, jika Anda tak suka saya duduk di sini. Tapi saya tidak sedang mencari.." Ia tersenyum. Dari matanya aku bisa merasakan bahwa sebenarnya hatinya tengah tertawa terpingkal-pingkal.

Aku tidak sedang mencari. Bukankah kalimat itu merupakan penggalan dari pesan yang pernah kukirimkan untuknya. Ya, entah sudah berapa sms telah aku kirimkan untuknya sejak pertemuan tak sengaja senja itu. Di suatu senja cerah di kedai kopi ini. Waktu itu kulihat ia duduk mengitari meja bersama kawan-kawannya sepuluh meter dari tempatku duduk. Lama aku memandanginya. Sampai seorang kawan yang duduk di sebelahku mengagetkanku.

"Namanya Mona, kau ingin tahu nomornya?" kata seorang kawan yang tengah duduk bersamaku. "Ia suka puisi, tapi tak suka laki-laki." Katanya saat aku menyalin nomor handphone perempuan itu. Hanya keterangan itu yang aku dapat dari kawanku.

Sehari setelah mendapat nomornya aku sering mengiriminya pesan berisi puisi-puisi pendek yang kukarang hanya beberapa menit saja. Kadang-kadang aku mengutip puisi-puisi karya penyair besar tanpa mencantumkan namanya. Ia tak pernah membalas pesanku, tetapi aku sering membayangkan ia tersenyum sejenak untuk kemudian gundah dan bertanya-tanya.

Sekarang, di sela jarimu terjepit sebatang rokok. Kau memakai singlet hitam bukan? Terang saja aku tahu. Tengoklah ke sekeliling, aku memakai kaus putih bertopi hitam.

Suatu senja, saat kebetulan aku melihatnya di kedai kopi ini kukirmkan pesan itu. Dari jarak sekitar lima belas meter kulihat matanya jelalatan menjalankan perintahku. Ia memang telah melihat beberapa lelaki yang bertebaran di kedai ini mengenakan kaus putih, tapi tak ada satu pun yang bertopi, dan tentu saja itu bukan aku. Sebab selain tak bertopi, waktu itu aku juga tidak sedang memakai kaus putih.

Sesekali aku mendongakkan kepala menatap gelagatnya. Berkali-kali ia merubah posisi duduk, mematikan rokok, menyeruput minuman, membakar rokok lagi, membaca pesan itu lagi, lalu celingak-celinguk seperti kera terkena peluru ketapel. Meski aku dalam posisi yang aman tetap saja jantungku berdetak lebih kencang. Tapi sungguh, betapa nikmat memandang tingkahnya dengan jantung berdebar.

Ketika ia mulai tenang dan kembali bercanda dengan kawan-kawannya yang duduk mengitari meja kembali kukirimkan teror untuknya:

Arah pulang telah bercecabang, puan. Karenanya, ijinkan aku singgah di pipimu.

Ia menghempas nafas usai membacanya. Berdiri, ia edarkan pandang ke sudut-sudut kedai. Ekor mataku segera menghindar saat bertemu dengan matanya. Aku tak ingin ia membaca mataku kemudian akan mendekatiku, dan memaksaku mengeluarkan ponsel dari saku.

Entah. Barangkali sudah lebih dari tiga puluh kali aku menyiksanya dengan puisi-puisi pendek, dan sesekali keterangan bahwa aku tengah melihatnya di kedai kopi itu. Melihatnya tengah tersiksa, betapa indah dan menggairahkan hidup.

Kesepianlah yang menyuruhku mengirimkan pesan-pesan untuknya. Kesukaanku melihat wajahnya saat tersiksa, sungguh, semua itu hadir begitu saja; kian lama menjadi candu; membeku di dadaku. Tapi aku sering bertanya sendiri ketika tengah sendiri. Adakah perilakuku punya sangkut paut dengan kepergian isteriku?

Mengenang isteriku, aku sering berpikir untuk segera mengambil tali, membuat simpul sederhana, mencancangnya di ambang pintu, lalu kumasukkan leherku. Dulu, sebelum isteriku menghilang entah kemana, tak pernah bosan ia berbisik kata di telingaku saat aku mulai duduk menulis cerita: "Nikmatilah perselingkuhanmu, aku yang mencintaimu berusaha rela." Mungkin maksudnya, ia menyuruhku untuk konsentrasi dengan apa yang tengah aku kerjakan. Berselingkuh dengan kata-kata, betapa nikmat.

Tengah malam isteriku sering menengokku di kamar kerja yang lebih mirip kandang gajah, kemudian berbisik: "Aku tahu, kau mencintainya, karenanya aku ijinkan kau tidur dengannya. Tapi aku ingatlah seseorang yang mencintaimu." Lalu ia akan meninggalkanku dan tidur di kamar sendirian. Menjelang siang, aroma kopi racikannya membangunkanku yang tergeletak di ruang kerja.

Betapa setiap hari ia selalu menyatakan perasaan cintanya, tak bosan-bosan, sampai telingaku hampir lecet. Adakah aku salah jika kemudian pada suatu malam aku menyuruhnya berhenti mengatakan perasaannya. Aku pernah berkata padanya bahwa aku lebih senang mencinta dari pada dicinta. Sejak aku mengatakan kalimat itu isteriku memang tak pernah ungkapkan perasaan cintanya lagi. Tetapi sikapnya tak ada yang berubah. Seperti matahari yang tertutup gulungan awan hitam, hakikatnya ia tetap bersinar. Aroma kopi racikannya masih setia membangunkanku di ruang kerja. Ia juga tak pernah menolak ketika sesekali kuajak bercinta.

Tapi senja muram itu telah menyeret isteriku entah ke gerbang mana. Ia pergi begitu saja?tanpa sepatah kata?ketika aku tengah menulis cerita. Membuatku membeku.

"Saya Mona." Perempuan yang mengenakan blus seperti warna langit itu mengulurkan lengannya.

Aku tahu ia jujur menyebut nama, tapi aku tidak tahu apa gunanya kejujuran dalam hal itu.

"Mona? Nama yang cantik. Mengingatkan aku dengan film My Summer of Love. Panggil saja saya Hari." Cara ia menggenggam tanganku mengingatkan aku dengan ciri-ciri orang yang tegas menentukan pilihan.

"Bukan Monalisa seperti tokoh film itu. Saya Mona Angelina."

"Angelina? Itu nama isteriku."

"Oya? Semoga saja kesamaan nama bukan berarti kesamaan segala-galanya." Ia tertawa kecil. Lalu membakar sebatang korek kayu kemudian meniupnya setelah beberapa detik menyala. Kemudian digosokkannya batang korek yang separuhnya telah terbakar itu di meja hingga bentuknya menyerupai tusuk gigi dengan ujung runcing berwarna hitam. Aku tahu, ia hendak menggunakan batang korek itu untuk menggambari batang rokok?kebiasaan yang dilakukan hampir semua pelanggan kedai kopi ini.

"Kau suka menggambar?" tanyanya tanpa memandangku.

"Aku lebih suka menulis."

"Menulis?!"

Mendadak aku menyesal dengan jawabanku, meski sebenarnya aku jujur. Aku geragapan. Kurasakan mukaku memerah, saat ia bertanya lagi, "Kau sering menulis puisi?"

Sekaranglah waktunya aku menghambur dari sini. Tetapi ketika aku hendak bangkit ia telah mengeluarkan benda kecil dari tas belelnya.

"Sebentar!" Satu tangannya memegang ponsel dan tangan lainnya menarik lenganku.

Beberapa jenak kemudian ponselku berdering.*** (rumah poetika, 06)


 

 

 

 


© 2002-2009 Sriti.com. All Rights Reserved.
Home | Tentang | Kontak