Logo Sriti Home | Cerpen | Tentang | Kontak
 


 








 
 

Hasan Al Banna Merayakan Kebahagiaan
- Chusnato Silakan Simak!
- 02/05/2010 Telah Disimak 2024 kali

 

Catatan Sriti.Com

Artikel ini pernah tayang sebelumnya di Sriti.com pada tanggal 4 Maret 2009.  Untuk merayakan peluncuran buku kumpulan cerpen Bob Marley dan 11 Cerpen Pilihan Sriti.com  0809  yang jatuh tepat tanggal 6 Februari 2010, artikel ini kembali ditayangkan.

***

Oleh:  Chusnato

Wakatobi memperkenalkan saya dengan Hasan Al Banna. Beberapa bulan silam, di tengah seret-nya penerbitan kumpulan cerpen sastra kita, nun jauh di sana, sejumlah kliping cerpen dari koran terbitan ibu kota sedang asyik dibaca oleh seorang guru di sebuah sekolah dasar yang bersahaja.

Mulanya saya merasa seperti "tersesat" ketika ia menunjukkan tumpukan kliping cerpen. Lembar demi lembar puluhan kliping yang mulai menguning itu seperti mengingatkan pekerjaan remeh kami di Sriti delapan tahun silam. Lalu kebahagiaan merayap di hati saya. Di kepulauan nan indah ini...ah, ternyata masih ada...

"Kebetulan nama kami sama. Hanya nasib yang berbeda," kata pak Hasan yang bernama Nurhasan itu membolak-balik lembaran kliping seperti sedang mencari-cari sesuatu.

"Nasib siapa, pak?" tanya saya.

"Hasan yang ini pasti jauh lebih kaya daripada saya yang guru honorer di pulau kecil ini..." katanya menunjuk nama cerpenis Hasan Al Banna dari sesobek cerpen.

Si guru honorer yang sudah mengabdi 8 tahun itu tertawa geli sendiri. Hati saya jadi sumbing seketika itu. Tapi akhirnya saya ikutan tertawa juga. Karena saya yakin ia tidak sedang berironi, tapi sedang merayakan kebahagiaan dengan caranya sendiri.

***

foto hasan al bannaPerkenalan Hasan Al Banna pada Sriti juga semirip itu. "Bisa dibilang nyasar. Semula saya klik 'cerpen-cerpen Hasan Al Banna' di google, maka muncul Sriti.com..." terang Hasan Al Banna.

Sebenarnya hasil wawancara ini sudah kami siapkan beberapa bulan lalu. Tadinya ada niatan untuk melengkapinya dengan semacam "apresiasi" kecil dari guru-guru honorer di daerah lainnya tentang cerpen-cerpen Hasal Al Banna. (Kebetulan, beberapa bulan ini saya sering "nyasar" ke sejumlah tempat yang nyempil di pulau-pulau terpencil). Tapi, ternyata yang namanya nyasar itu tidak bisa direkayasa. Kebahagian bertemu Pak Nurhasan itu adalah kejadian langka. Semirip itu pula lah penerbitan kumpulan cerpen yang sekarang  mengalami kemerosotan yang sangat tajam di tahun 2008 lalu.

Meski begitu, kami tetap ingin menampilkan hasil obrolan dengan Hasan Al Banna dengan rasa bahagia. Seperti juga pak Nurhasan di pulau terpencil yang elok itu, kami di Sriti juga punya cara untuk merayakan kebahagiaan kecil kami ini.

Soal "kebahagiaan", saya sempat tanyakan juga kepada Hasan yang cerpenis itu. Pertanyaan titipan dari rekan kami yang lain tetap saya tampilkan gamblang apa adanya.  Singkatnya kami ucapkan selamat membaca dan mengenal lebih jauh siapa Hasan Al Banna itu. Kami berharap bisa menampilkan kebahagiaan yang dirasakan oleh cerpenis Hasan Al Banna ini...   


Sriti: Bisa diceritakan sedikit tentang proses kreatif Anda sebagai penulis...

Hasan: Saya percaya dengan kekuatan niat, tekad. Saya sadar, bahwa dengan niat ingin menulis, maka saya pun menghasilkan tulisan. Soal bagus atau tidak bagus, urusan nanti. Seingat saya begitu. Bukan karena hasil tulisan saya yang membuat saya tertegun, dan bergumam: "... berbakat juga saya menulis...". Bukan seperti itu. Dahulu, semasa sekolah, saya tergolong malas membaca buku, meskipun saya senang memperhatikan hal-hal yang tersirat, dan senang pelajaran bahasa Indonesia, juga membaca puisi pada hari-hari besar nasional.

Sriti: Anda hidup dari lingkungan yang suka sastra?

Hasan: Tradisi membaca dan menulis di kota kelahiran saya, Padangsidimpuan--berjarak satu malam perjalanan dengan bus dari Medan--nyaris nihil. Maka, saya datang ke Medan dengan bekal tradisi menulis dan membaca yang kerontang. Tetapi, sejak kuliah semester III, saya semakin tertarik sastra, karena seorang dosen saya bernama Drs Antilan Purba MPd. Beliau yang menyadarkan saya bahwa membaca itu adalah kebutuhan. Pun begitu juga dengan kebutuhan membeli buku. Saya pun belajar membeli buku-buku sastra, tentu membacanya dengan lahap.

Sriti: Sepertinya nikmat betul, ya?

Hasan: Mungkin, kenikmatan membaca buku-buku sastra menginspirasi saya untuk beranjak menulis karya sastra. Bukan mencoba-coba, iseng-iseng, tetapi dengan kesadaran bahwa saya harus menulis karya. Saya merasa terbantu ketika pada waktu yang sama saya juga tergabung dalam kelompok teater kampus, Teater LKK Universitas Negeri Medan.

Sriti: Lalu, mengapa cerpen...

Hasan: Cerpen atau apapun bagi saya hanya sebuah pilihan atas kenikmatan yang saya peroleh dari proses membaca. Mungkin karena saya duduk di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, saya pun tak berani memastikan. Namun, yang pasti, saya memilih bukan karena pertimbangan laku atau tidak laku apa yang saya tulis, bukan masalah finansial. Tetapi karena saya ingin menulis cerpen. Inilah mungkin kelemahan saya, atau apapun namanya, bahwa ketika menulis, saya senantiasa membunuh hasrat tentang apa (materi) yang bisa dihasilkan dari sesuatu yang saya tulis. Tekad saya: "Saya harus bertarung dengan segenap ide, data, imajinasi, dan kemampuan untuk menciptakan karya yang berdaging."

Sriti: Enggak pingin kaya?

Hasan: Nah, bagi saya, masalah finansial akan datang mengerubungi karya tersebut jika memang berkualitas. Jujur, saya juga tidak munafik, bahwa lambat-laun, saya juga menikmati dengan bangga hasil (materi dan ketenaran) dari menulis. Tetapi, saya selalu mampu memulangkan diri pada sebuah kesadaran bahwa yang utama adalah karya. Sedangkan besar-kecilnya "kekayaan" yang datang dari karya, tergantung cita-rasa karya tersebut.

Sriti: Ketika menulis cerpen, apa yang Anda bayangkan?

Hasan: Membayangkan tokoh-tokoh cerita yang bersebut simpati saya. Betapa nikmat mendapatkan tokoh tersebut hadir dengan tubuh, karakter, keinginan yang rumit sekaligus mengagumkan. Tokoh-tokoh yang kemudian menyodorkan tokoh yang lain, setting yang beragam, dan jalinan cerita yang mendebarkan.

Sriti: Apakah cerpen bisa membuat Anda bahagia?

Hasan: Saya bahagia!

Sriti: Maksudnya...?

Hasan: Dengan menulis saya bisa menjadi apa saja, dengan menulis cerpen saya bebas menjadi siapapun, dan dengan menulis saya bisa menjelajah ke mana saja. Maka betapa kaya saya.

Sriti: Jadi Anda orang yang kaya raya, ya?

Hasan: Benar, saya orang yang "kaya". Karena kaya itu bisa menjadi "relatif", tergantung persepsi orang yang bersangkutan. Jika Anda bertanya kepada seorang hartawan, maka ia akan menjawab kira-kira begini: "...kaya itu adalah mobil mewah, rumah megah, tabungan melimpah, dan sebagainya, dan sebagainya...". Tetapi, jika Anda bertanya kepada seseorang yang bukan penganut paham matre, jawabannya kurang lebih semacam ini: "...kaya itu ialah pandai berteman, baik hati, pemaaf, penyabar, nihil musuh, dan seterusnya, dan seterusnya...". Baiklah, saya berani mengatakan jika saya seorang kaya raya! Sebab: dengan menulis saya bisa menjadi apa saja, dengan menulis saya bebas menjadi siapapun, dan dengan menulis saya bisa menjelajah ke mana saja.

Sriti: Semacam penjelajahan, begitu?

Hasan: Tentu, dengan menulis saya bisa berwujud pelacur, pengemis, keparat, germo, tukang becak, penipu, orang gila, bahkan burai jenazah sekalipun. Melalui tulisan, dengan sesuka hati saya bisa menjadi pejabat bertabiat bejat, lurah berijazah palsu, atau seorang ayah penikmat tubuh putrinya. Dengan menghambur bebas ke kubang tulis-menulis, saya bergelicak sepuasnya dengan beragam watak dan kepribadian tokoh-tokoh cerita saya. Saya biarkan tokoh-tokoh fiktif itu mengepung saya. Pasrah saya! Tetapi yang paling penting, saya menikmatinya!

Sriti: Bisa dijelaskan lebih rinci?

Hasan: Saya terkapar di trotoar dengan lapar yang menggelepar, saya nikmati. Saya terdampar di bilik buram dengan kemaluan yang koyak, saya nikmati. Saya nikmati betul gubuk tua yang senantiasa merangkul tubuh tandus saya. Saya nikmati pula kolam renang yang membentang di pekarangan rumah saya. Seperti saya menikmati kamar tidur bertivi sebesar gajah. Juga menikmati beranda rumah dijejeri mobil mewah.

Sriti: Jadi benar! Anda seorang yang kaya raya...

Hasan: ...betapa kaya raya saya! Sebab saya dengan segala upaya harus mengenal tokoh cerita saya satu persatu. Tokoh cerita yang hadir dengan segala tingkah-gelagatnya. Bukankah demi kisah yang mantap, saya harus mengenal watak tokoh cerita saya, harus tahu rencah-tabiatnya, tahu keluh-kesahnya, tahu ria-citanya, tahu palung-terjal hatinya, juga kekurangan dan kelebihannya. Maka untuk itu, tentu saya harus kaya data, kaya fakta, kaya referensi, kaya baca, kaya keingintahuaan, kaya proses, kaya kesabaran, kaya kreativitas, lantas saya musti kaya imajinasi demi merampungkan sebuah fiksi yang berkualitas.

Sriti: Kalau dalam kondisi terbalik?

Hasan: Seorang hartawan dengan limpahan uangnya memang bisa menjadi apa saja, bisa pergi ke mana-mana, tetapi sudikah ia menjadi pengamen, pengunyah bangkai tikus, lelaki yang menjerat leher sendiri, pemabuk atau penzina laknat, pelacur beraroma kencur, veteran tanpa uang, atau lainnya? Bersediakah ia tinggal di rumah beratap kardus, makan siang di kolong jembatan, buang hajat di ngarai sungai berlimbah, atau minum kopi di depan jamban pecah? Jawabannya: Saya ragu! Mungkin jadi, untuk memikirkannya pun seorang hartawan betapa enggan. Mungkin jadi ia bakal menggigil, mengerang, lantas mati dengan mata terjungkal! Bagi hartawan, hal itu bukan kerjaan. Dosa besar, dan sia-sia!

Sriti: Kongretnya...

Hasan: Maka, katakan, siapa yang lebih kaya dan bahagia, saya atau para hartawan itu?

Sriti: Siapa orang yang sangat berjasa dalam pola kepenulisan cerpen Anda sekarang?

Hasan: Banyak pihak yang berjasa membentuk riwayat kepenulisan saya. Pada dasarnya saya menghargai semua penulis. Penulis yang bagus maupun yang tidak bagus. Penulis bagus membuat saya iri, dan bergegas menyainginya. Penulis yang tidak bagus membuat saya bisa belajar dari ketidakbagusannya. Saya belajar dari banyak penulis lokal maupun nasional, baik secara langsung maupun melalui referensi karya dan proses krativitasnya. Saya menampung banyak hal dari mereka, kemudian meleburnya dalam diri saya, berbenturan satu sama lain, dan akhirnya melahirkan identitas kepenulisan tersendiri dari saya. Tetapi, sejatinya, pola kepenulisan bagi saya sangat fleksibel, rawan pergeseran.

Sriti: Apa pengaruhnya bagi Anda sendiri?

Hasan: Terkadang, saya berpikir, bahwa saya lebih banyak mengadopsi beragam semangat para penulis dalam berkreativitas ketimbang tindak-tanduk pola dalam hasil karya penulis-penulis tersebut.

Sriti: Siapa saja mereka itu?

Hasan: Di permulaan proses kepenulisan saya, nama Seno Gumira Ajidarma dan AA. Navis senantiasa menyita perhatian.

Sriti: Bagaimana Anda melihat khazanah cerpen Indonesia sekarang?

Hasan: Mmh... Saya bingung menjawabnya. Menurut saya tidak ada kemutakhiran murni. Yang ada adalah pergumulan tiada henti, dan melahirkan hal-hal yang lebih segar, beragam, dan kadang mengejutkan. Pergumulan tiada henti itulah kemutakhiran!

Sriti: Sedikit komentar sajalah...

Hasan: Di sisi lain, ada hal yang menggangu saya, bahwa banyak penulis terlampau gemar berkomentar bahwa dunia tulis-menulis tidak dihargai. Cengeng itu! Tiap-tiap bidang sudah ada massanya, sudah ada pengagumnya. Lebih baik menghabiskan energi untuk melahirkan karya, daripada merengek-rengek minta dihargai. Masalah harga-menghargai tidak akan selesai dibahas sampai kiamat. Penghargaan muncul dari pandangan khalayak terhadap karya, bukan karena niat agar dihargai.

Sriti: Optimis sekali, ya?

Hasan: Bagi saya, karya yang dengan ditulis dengan kesungguhan, kejujuran, kerja keras akan menjemput pujian. Jadi, tak akan hilang dunia tulis-menulis dari bumi.

Sriti: Secara umum, bagaimana Hasan melihat cerpen, kshusnya cerpen koran kita saat ini?

Hasan: Lebih beragam, meskipun secara umum, tidak ada hal yang benar-benar baru. Kebaruan lahir upaya kreativitas pengarang terhadap bentuk-bentuk yang lampau.  Secara pribadi sangat besar. Karena koran merupakan media yang membantu "menjual" nama pengarang ke khalayak.

Sriti: Apa alasannya?

Hasan: Ada dua alasan mengapa media koran ditasbihkan sebagai media pemenang dalam pemuatan hasil-hasil sastra. Pertama, mempublikasikan karya sastra lewat media buku membutuhkan biaya besar dengan risiko kerugian besar pula. Maka tidak heran, jika penerbitan miskin minat untuk membukukan hasil sastra. Kalaupun ada beberapa buku sastra yang terbit, bukankah kebanyakan bahannya berasal dari karya-karya yang sudah diterbitkan koran. Berarti, dalam kasus ini, buku pun sudah menderita kekalahan dari koran. Paling tidak, "didahulukan koran". Kedua, media majalah yang tentu tidak sanggup menampung "birahi" berkarya para pengarang. Selain hanya terbit sebulan sekali, coba sebutkan, ada berapa jumlah majalah sastra di Indonesia? Hampir tidak jauh berbeda, jurnal yang terbit secara berkala dianggap tidak memberikan ruang yang memuaskan hasrat pengarang.

Sriti: Jadi "sastra koran" lebih menguntungkan?

Hasan: Maka setuju atau tidak setuju, banyak pengarang sastra telah menempatkan koran sebagai media incaran nomor satu untuk memampangkan karya-karyanya. Alasannya, koran menjamur, rubrik sastra terbit seminggu sekali (bahkan seminggu dua kali), koran mudah diperoleh, dan biayanya murah. Tentu peluang untuk dibaca khalayak sangat besar, kemudian akan dibicarakan baik buruk kualitasnya. Intinya, koran memiliki andil besar dalam merawat pertumbuhan karya sastra, sekaligus perkembangan apresiasinya.

Sriti: Berapa cerpen yang selama ini pernah Anda tulis?

Hasan: Lebih kurang 50 cerpen. Hampir semua telah dipublikasi di media lokal dan nasional.

Sriti: Apakah cerpen yang pernah dipublikasikan di media cetak terlebih dahulu punya mutu lebih baik dari cerpen yang langsung dibukukan?

Hasan: Tidak juga. Tetapi tidak dapat dimungkiri, jika koran menjadi ajang pemanasan publikasi sebelum terjun ke sebentuk buku. Memang, pada akhirnya, pengarang harus berjuang mengakali ruang sempit yang disediakan koran, kalau tidak mau dikatakan mengorbankan kekuatan karya demi dimuat di koran. Selain itu, bukankah pengarang untung dua kali dengan terlebih dahulu dihamparkan di koran?

Sriti: Bisa diceritakan sedikit, supaya pembaca kami punya acuannya... Sedikit contoh tanpa perlu sungkan menyebut contoh cerpen dan media bersangkutan. Semacam untuk pembelajaran pembaca muda kami...

Hasan: Soal baik tidak baik, itu relatif. Termasuk baik di sebuah media, belum tentu baik bagi media lain. Cerpen saya Tiurmaida telah memberi bukti. Semula saya mengirimnya untuk diseleksi dalam Sayembara Cerpen Festival Kreativitas Pemuda yang diadakan CWI, tetapi gagal masuk 30 besar. Tiurmaida saya angsur ke Media Indonesia. Hasilnya, tidak dimuat-muat. Saya nekat mengirimnya ke harian Kompas, dan dimuat. Malah Tiurmaida terpulih masuk 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 versi Anugerah Pena Kencana. Tentu, saya tidak mengatakan juri sayembara atau redaktur Media Indonesia salah besar tidak memihak Tiurmaida. Tentu pula saya bukan sedang menyatakan bahwa Kompas dan dewan juri Anugerah Pena Kencana sebagai media yang baik dan pengadil karya yang mentap. Tetapi, betapa fleksibelnya penilaian khalayak terhadap karya sastra, termasuk cerpen. Cerpen koran tidak serta-merta lebih baik dari cerpen buku. Pun begitu sebaliknya, cerpen buku bukan garansi kebagusan sebuah karya sastra.


Sriti: Bagaimana "tren" cerpen koran Indonesia di masa yang akan datang?

Hasan: Tema faktual masih tetap mendominasi. Karena apa? Karena koran adalah media yang karib dengan fakta. Begitupun, banyak pengarang yang tidak akan menyerah pada kefaktualan semata. Banyak pengarang akan terus menanak kreativitas demi pengayaan bentuk-bentuk karya yang lebih berwarna, tetapi tetap memberi sentuhan keaktualan. Bahkan, semaksimal mungkin, nilai aktual dalam karya bersembunyi di palung terdalam.

Sriti: Apakah ada teknik khusus dalam menulis cerpen?

Hasan: Saya akan memulai dari kenyataan jika saya orang yang tidak suka dengan istilah mood dalam menulis. Saya pun tidak memiliki jadwal untuk menulis. Kapan saya ingin menulis, maka saya akan menulis. Saya orang yang tidak mudah menghapal. Tetapi itu tidak berlaku ketika saya menyimpan banyak inspirasi di kepala. Kepala saya setiap saat menulis. Nah, tinggal menuangkannya saja saya yang butuh waktu. Waktu itu bisa pagi, siang, sore, malam, dini hari, ketika hening atau hirik-pikuk.

Sriti: Kongretnya seperti apa...

Hasan: Begitu juga dengan masalah teknik, saya hampir tidak memedulikan teknik tertentu dalam menulis. Saya berupaya untuk tidak beranjak dari tetek-bengek teknik dalam menghasilkan sebuah karya. Lain karya, lain pula teknik dan proses kreativitas saya. Malah, kadang waktu, saya merasa teknik adalah penjara!

Sriti: Dari mana datangnya itu...

Hasan: Bagi saya, teknik datang dari dalam diri saya. Ya, tentu saja teknik-teknik yang pernah saya baca turut memengaruhi proses saya dalam menanak karya. Namun, saya senantiasa menempatkan diri jika saya tidak memulai dari teknik, tetapi bisa jadi hati, rasa, hasrat. Entahlah...

Sriti: Soal ide, dari mana bisanya ide itu datang?

Hasan: Dari kegelisahan!

Sriti: Bisa dijelaskan detailnya? Biar pembaca kami puassss...

Hasan: Kegelisahan adalah api-periuk karya-karya saya. Saya senantiasa bersuka-cita andai kegelisahan masih terus mengepul dari diri saya. Kegelisahan adalah muasal inspirasi. Tentu kegelisahan tentang apa saja. Kegelisahan yang datang dari mesin kepekaan saya sebagai manusia. Sastrawan itu tidak bisa tidak harus tetap menghidupkan, merawat, dari mencintai mesin kepekaannya. Kegelisahan bagi saya tidak semata harus ditunggu, tapi diintai, diburu, disergap, lantas ditangkap. Semisal saya sedang duduk di hamparan Danau Toba yang luar biasa itu, namun mesin kegelisahan tidak dinyalakan, maka saya tidak akan menemukan sejinjing inspirasi pun. Danau Toba menjelma hamparan yang tak berarti. Sebaliknya, tatkala saya duduk di sepencil tempat, dan di hadapan saya ada sebuah lobang semut, namun mesin kegelisahan saya sedang giat bekerja, maka saya bakal dikerubungi inspirasi. Lantas saya disengat ribuan inspirasi, saya terluka, saya berdarah-darah, saya menggelepar, terkapar. Seterusnya, darah saya yang mengucur, daging saya yang menyerpih berangkat ke tubuh karya. Karya yang dialiri darah, karya yang memilik nadi, karya yang berdaging dan berbentuk.

Sriti: Dari sejumlah cerpen yang ada di Sriti, Anda kelihatan tekun, ya...

Hasan: Saya termasuk sabar dalam menulis cerpen, maka terkesan tidak produktif. Banyak cerpen yang memiliki usia proses 2 atau 3 tahun sejak kemunculan ide sampai perampungannya. Bukan berarti selama 2-3 tahun saya intens menggarapnya. Tetapi saya intens melacak, melengkapi segala hal terkait data, karakter, ruh karya tersebut. Ketika hal tersebut sudah rampung, saya menggarapnya dalam hitungan hari, bahkan hitungan minggu.

Sriti: Ada patokan khusus?

Hasan: Saya senantiasa memiliki patokan sendiri terhadap kualitas karya-karya saya. Jika patokan tersebut belum terpenuhi, maka saya akan tetap menyimpannya. Saya termasuk tidak obral dalam memublikasikannya.

Sriti: Apa harapan seorang Hasan Al Banna?

Hasan: Cita-cita saya ingin segera diwujudkan adalah menerbitkan kumpulan cerpen/puisi tunggal. Saya memiliki sebuah manuskrip cerpen berjudul Pasar Jongjong. Terdiri dari 16 cerpen yang sudah dipublikasikan di media nasional semacam Kompas, Horison, Suara Merdeka, Koran Tempo, dan media lokal Analisa, Andalas dan Waspada. Penerbit MataKata (Budi P Hatees) menyatakan ketertarikannya...

Sriti: Selain cerpen?

Hasan: Saya juga memiliki manuskrip puisi berjudul Merayakan Rindu. Tentu saja masih tetap setia menunggu untuk masuk ke rumah buku.

Sriti: Tidak ada keinginan membuat novel?

Hasan: Sampai saat ini, menulis novel bagi saya masih belum beranjak jauh dari sebuah tekad. Tetapi saya memiliki sebuah manuskrip berisi esai-esai tentang kebahasaan dengan judul Bidan Pengantin.

Sriti: Ada seorang pembaca Sriti yang kesulitan mencari alamat blog Anda...

Hasan: Boleh dibilang, saya otodidak belajar teknologi, termasuk komputer dan perangkatnya. Saya sedang belajar membuat blog, tetapi belum rampung. ***
Chusnato


Hasan Al Banna

Panggilan: Hasan

Tempat/tanggal lahir: Padangsidimpuan, 3 Desember 1978

Pendidikan:

  • SDN Padangsidimpuan (1985-1991)
  • MTsN Padangsidimpuan (1991-1994)
  • MAN 1 Padangsidimpuan (1994-1997)
  • Program S1 Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Universitas Negeri Medan (1998-2003)

Keluarga:

  • Ayah; Emsi (alm.), Ibu; Darlis
  • Istri: Dewi Haritsyah Pohan
  • Anak: Embun Segar Firdaus.

Pekerjaan:

  • Staf Balai Bahasa Medan, Depdiknas.

Kegiatan lain:

  • Instruktur Pelatihan Kepenulisan Fiksi dan Non Fiksi, dan Pekerja Teater.
  • Home Poetry, dan sebagai dewan kehormatan di Forum Lingkar Pena Sumut.
  • Mulai menulis puisi, cerpen dan esai sejak bergabung dengan Teater LKK Unimed tahun 1999, antara lain menyebar di Mimbar Umum, Analisa, Waspada, Medan Bisnis, Sumut Pos, Sumatra, Medan Pos, Harian Global, Andalas, Riau Pos, Sagang, Sabili, Lampung Post, Suara Pembaruan, Republika, Suara Merdeka, Koran Tempo, Kompas, Horison, Tapian, dan Gong.

Sejumlah karya:

  • 50 Botol Infus (Teater LKK UNIMED:2002)
  • Gapai Rindu (Basastrasia UNIMED:2003)
  • Amuk Gelombang (Star Indonesia Production:2005)
  • Ragam Jejak Sunyi Tsunami (Balai Balahasa Medan:2005)
  • Dian Sastro for President! End of Trilogy (Insist Press:2005)
  • Jogja 5,9 Skala Richter (Bentang:2006), Medan Puisi (2007)
  • Medan Sastra (TSS-TSSU:2007)
  • Tanah Pilih (Disbudpar Jambi:2008)
  • Kenduri Puisi (Ombak:2008)
  • Antologi 30 Terbaik Lomba Cerpen Tingkat Nasional Festival Kreativitas Pemuda 2004: Dari Zefir sampai Puncak Fujiyama (CWI:2004)
  • Rebana (Analisa:2006)
  • Denting (DKM:2006)
  • Merantau ke Atap Langit (Teater LKK UNIMED:2008)
  • Antologi esai peserta Program Penulisan Esai Mejelis Sastrawan Asia Tenggara (MASTERA): Jendela Terbuka (Pusat Bahasa:2005).
  • Salah satu cerpennya berjudul Tiurmaida terangkum dalam antologi 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 (PT. Gramedia Pustaka Utama:2008) versi Anugerah Pena Kencana Award.

Kerja Budaya:

  • Aktif (sebagai pelakon maupun sutradara) dalam berbagai pementasan teater bersama Teater LKK Unimed, Teater Siklus Ind. Art, Teater Patria, dan Teater Generasi.
  • Beberapa kali terlibat pementasan teater dan pertunjukan sastra di Medan, juga di Banda Aceh, Padang, Pekanbaru, Jambi, Lampung, Jakarta, serta Yogyakarta.
  • Pernah meraih Gelar Raja Teater LKK Unimed (1999), Aktor Terbaik Festival Drama Se-Unimed (1999), dan Sutradara Terbaik Festival Drama Se-Unimed (2000).
  • 30 Terbaik Lomba Cerpen Tingkat Nasional Festival Kreativitas Pemuda (2004)
  • Juara Harapan Sayembara Menulis Puisi TELKOMSEL se-Sumatera (2004)
  • Juara I Sayembara Menulis Cerpen TELKOMSEL se-Sumatera (2005)
  • Juara II Sayembara Menulis Puisi Dewan Kesenian Medan (2005).
  • Pernah bermain dalam naskah Tok Tok Tok (Ikranegara), Onani (Teater LKK Unimed), Lysisitrata (Aristophanes), Jodoh (Ys. Rat), Tamu Terakhir (M. Raudah Jambak) yang mengikuti Festival Teater Alternatif GKJ Awards 2003 di Jakarta, dan RT Nol RW Nol (Iwan Simatupang).
  • Mengikuti Pertemuan Teater Eksperimental Nusantara di Padang (2000), Eksebisi Teater Se-Indonesia di Medan (2001) dan Kenduri Teater Kampus Indonesia-Malaysia di Pekanbaru (2001).
  • Menyutradarai naskah Meja Makan Kita (GSSTF Bandung) yang meraih Gelar Juara I Festival Drama Se-Unimed, Wajah-wajah (Dilhami Cerpen Wajah Agus Noor), Hanya Satu Kali (Terjemahan Sitor Situmorang)  meraih Gelar Penampilan terbaik III Parade Teater Sekolah II Sumatera Utara, Nol (Putu Wijaya) dan Penjaja Kereta Sorong (Murray Schisgal) meraih Gelar Juara I Lomba Teater Mahasiswa Se-Indonesia 2002 di Yogyakarta.

    Pernah mengikuti Program Penulisan Esai Mejelis Sastrawan Asia Tenggara (MASTERA) di Banyuasin, Sumatera Selatan (2004).

  • Mengikuti Festival Puisi Internasional di Medan (2007), Pentas Penyair Se-Sumatra di Batam (2007), dan Temu Sastrawan Indonesia 1 di Jambi (2008).

5 (lima) judul buku sastra rekomendasi Hasan Al Banna

  • Kumpulan cerpen Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi karya Seno Gumira Ajidarma.
  • Kumpulan cerpen Matinya Seorang Buruh Kecil karya Anton Chekhov.
  • Kumpulan Cerpen Memorabilia karya Agus Noor.
  • Kumpulan Cerpen Iblis Ngambek karya Indra Tranggono.
  • Kumpulan Cerpen Robohnya Surau Kami karya AA. Navis.
  • Cerpen-cerpen Hasan Al Banna di Sriti.com

    Kontak Hasan Al Banna

    • Alamat Surat: d.a Balai Bahasa Medan, Jalan Kolam (Ujung) No. 7, Medan Estate, Medan
    • Email: hasanalbanna_mdn-at-yahoo-dot-com



     

     

     

     


    © 2002-2007 Sriti.com. All Rights Reserved.
    Home | Tentang | Kontak