|
Catatan Sriti.Com Artikel ini pernah tayang sebelumnya di Sriti.com pada tanggal 4 Maret 2009. Untuk merayakan peluncuran buku kumpulan cerpen Bob Marley dan 11 Cerpen Pilihan Sriti.com 0809 yang jatuh tepat tanggal 6 Februari 2010, artikel ini kembali ditayangkan. ***
Oleh: Chusnato
Wakatobi memperkenalkan saya dengan Hasan Al Banna. Beberapa bulan silam, di tengah seret-nya
penerbitan kumpulan cerpen sastra kita, nun jauh di sana, sejumlah
kliping cerpen dari koran terbitan ibu kota sedang asyik dibaca oleh
seorang guru di sebuah sekolah dasar yang bersahaja.
Mulanya saya merasa seperti "tersesat" ketika ia menunjukkan
tumpukan kliping cerpen. Lembar demi lembar puluhan kliping yang mulai
menguning itu seperti mengingatkan pekerjaan remeh kami di Sriti
delapan tahun silam. Lalu kebahagiaan merayap di hati saya. Di
kepulauan nan indah ini...ah, ternyata masih ada...
"Kebetulan nama kami sama. Hanya nasib yang berbeda," kata pak Hasan
yang bernama Nurhasan itu membolak-balik lembaran kliping seperti
sedang mencari-cari sesuatu.
"Nasib siapa, pak?" tanya saya.
"Hasan yang ini pasti jauh lebih kaya daripada saya yang guru
honorer di pulau kecil ini..." katanya menunjuk nama cerpenis Hasan Al
Banna dari sesobek cerpen.
Si guru honorer yang sudah mengabdi 8 tahun itu tertawa geli sendiri. Hati saya jadi sumbing seketika itu. Tapi akhirnya saya ikutan tertawa juga. Karena saya yakin ia tidak sedang berironi, tapi sedang merayakan kebahagiaan dengan caranya sendiri.
***
Perkenalan Hasan Al Banna pada Sriti juga semirip itu. "Bisa dibilang nyasar. Semula saya klik 'cerpen-cerpen Hasan Al Banna' di google, maka muncul Sriti.com..." terang Hasan Al Banna.
Sebenarnya hasil wawancara ini sudah kami siapkan beberapa bulan
lalu. Tadinya ada niatan untuk melengkapinya dengan semacam "apresiasi"
kecil dari guru-guru honorer di daerah lainnya tentang cerpen-cerpen
Hasal Al Banna. (Kebetulan, beberapa bulan ini saya sering "nyasar" ke
sejumlah tempat yang nyempil di pulau-pulau terpencil). Tapi, ternyata
yang namanya nyasar itu tidak bisa direkayasa. Kebahagian bertemu Pak
Nurhasan itu adalah kejadian langka. Semirip itu pula lah penerbitan
kumpulan cerpen yang sekarang mengalami kemerosotan yang sangat tajam
di tahun 2008 lalu.
Meski begitu, kami tetap ingin menampilkan hasil obrolan dengan
Hasan Al Banna dengan rasa bahagia. Seperti juga pak Nurhasan di pulau
terpencil yang elok itu, kami di Sriti juga punya cara untuk merayakan
kebahagiaan kecil kami ini.
Soal "kebahagiaan", saya sempat tanyakan juga kepada Hasan yang
cerpenis itu. Pertanyaan titipan dari rekan kami yang lain tetap saya
tampilkan gamblang apa adanya. Singkatnya kami ucapkan selamat membaca
dan mengenal lebih jauh siapa Hasan Al Banna itu. Kami berharap bisa
menampilkan kebahagiaan yang dirasakan oleh cerpenis Hasan Al Banna
ini...
Sriti: Bisa diceritakan sedikit tentang proses kreatif Anda sebagai penulis...
Hasan: Saya percaya dengan kekuatan niat, tekad. Saya sadar,
bahwa dengan niat ingin menulis, maka saya pun menghasilkan tulisan.
Soal bagus atau tidak bagus, urusan nanti. Seingat saya begitu. Bukan
karena hasil tulisan saya yang membuat saya tertegun, dan bergumam:
"... berbakat juga saya menulis...". Bukan seperti itu. Dahulu, semasa
sekolah, saya tergolong malas membaca buku, meskipun saya senang
memperhatikan hal-hal yang tersirat, dan senang pelajaran bahasa
Indonesia, juga membaca puisi pada hari-hari besar nasional.
Sriti: Anda hidup dari lingkungan yang suka sastra?
Hasan: Tradisi membaca dan menulis di kota kelahiran saya,
Padangsidimpuan--berjarak satu malam perjalanan dengan bus dari
Medan--nyaris nihil. Maka, saya datang ke Medan dengan bekal tradisi
menulis dan membaca yang kerontang. Tetapi, sejak kuliah semester III,
saya semakin tertarik sastra, karena seorang dosen saya bernama Drs
Antilan Purba MPd. Beliau yang menyadarkan saya bahwa membaca itu
adalah kebutuhan. Pun begitu juga dengan kebutuhan membeli buku. Saya
pun belajar membeli buku-buku sastra, tentu membacanya dengan lahap.
Sriti: Sepertinya nikmat betul, ya?
Hasan: Mungkin, kenikmatan membaca buku-buku sastra menginspirasi saya untuk beranjak menulis karya sastra. Bukan mencoba-coba, iseng-iseng,
tetapi dengan kesadaran bahwa saya harus menulis karya. Saya merasa
terbantu ketika pada waktu yang sama saya juga tergabung dalam kelompok
teater kampus, Teater LKK Universitas Negeri Medan.
Sriti: Lalu, mengapa cerpen...
Hasan: Cerpen atau apapun bagi saya hanya sebuah pilihan atas
kenikmatan yang saya peroleh dari proses membaca. Mungkin karena saya
duduk di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, saya pun tak berani
memastikan. Namun, yang pasti, saya memilih bukan karena pertimbangan
laku atau tidak laku apa yang saya tulis, bukan masalah finansial.
Tetapi karena saya ingin menulis cerpen. Inilah mungkin kelemahan saya,
atau apapun namanya, bahwa ketika menulis, saya senantiasa membunuh
hasrat tentang apa (materi) yang bisa dihasilkan dari sesuatu yang saya
tulis. Tekad saya: "Saya harus bertarung dengan segenap ide, data,
imajinasi, dan kemampuan untuk menciptakan karya yang berdaging."
Sriti: Enggak pingin kaya?
Hasan: Nah, bagi saya, masalah finansial akan datang
mengerubungi karya tersebut jika memang berkualitas. Jujur, saya juga
tidak munafik, bahwa lambat-laun, saya juga menikmati dengan bangga
hasil (materi dan ketenaran) dari menulis. Tetapi, saya selalu mampu
memulangkan diri pada sebuah kesadaran bahwa yang utama adalah karya.
Sedangkan besar-kecilnya "kekayaan" yang datang dari karya, tergantung
cita-rasa karya tersebut.
Sriti: Ketika menulis cerpen, apa yang Anda bayangkan?
Hasan: Membayangkan tokoh-tokoh cerita yang bersebut simpati
saya. Betapa nikmat mendapatkan tokoh tersebut hadir dengan tubuh,
karakter, keinginan yang rumit sekaligus mengagumkan. Tokoh-tokoh yang
kemudian menyodorkan tokoh yang lain, setting yang beragam, dan jalinan cerita yang mendebarkan.
Sriti: Apakah cerpen bisa membuat Anda bahagia?
Hasan: Saya bahagia!
Sriti: Maksudnya...?
Hasan: Dengan menulis saya bisa menjadi apa saja, dengan
menulis cerpen saya bebas menjadi siapapun, dan dengan menulis saya
bisa menjelajah ke mana saja. Maka betapa kaya saya.
Sriti: Jadi Anda orang yang kaya raya, ya?
Hasan: Benar, saya orang yang "kaya". Karena kaya itu bisa
menjadi "relatif", tergantung persepsi orang yang bersangkutan. Jika
Anda bertanya kepada seorang hartawan, maka ia akan menjawab kira-kira
begini: "...kaya itu adalah mobil mewah, rumah megah, tabungan
melimpah, dan sebagainya, dan sebagainya...". Tetapi, jika Anda
bertanya kepada seseorang yang bukan penganut paham matre,
jawabannya kurang lebih semacam ini: "...kaya itu ialah pandai
berteman, baik hati, pemaaf, penyabar, nihil musuh, dan seterusnya, dan
seterusnya...". Baiklah, saya berani mengatakan jika saya seorang kaya
raya! Sebab: dengan menulis saya bisa menjadi apa saja, dengan menulis
saya bebas menjadi siapapun, dan dengan menulis saya bisa menjelajah ke
mana saja.
Sriti: Semacam penjelajahan, begitu?
Hasan: Tentu, dengan menulis saya bisa berwujud pelacur,
pengemis, keparat, germo, tukang becak, penipu, orang gila, bahkan
burai jenazah sekalipun. Melalui tulisan, dengan sesuka hati saya bisa
menjadi pejabat bertabiat bejat, lurah berijazah palsu, atau seorang
ayah penikmat tubuh putrinya. Dengan menghambur bebas ke kubang
tulis-menulis, saya bergelicak sepuasnya dengan beragam watak dan
kepribadian tokoh-tokoh cerita saya. Saya biarkan tokoh-tokoh fiktif
itu mengepung saya. Pasrah saya! Tetapi yang paling penting, saya
menikmatinya!
Sriti: Bisa dijelaskan lebih rinci?
Hasan: Saya terkapar di trotoar dengan lapar yang
menggelepar, saya nikmati. Saya terdampar di bilik buram dengan
kemaluan yang koyak, saya nikmati. Saya nikmati betul gubuk tua yang
senantiasa merangkul tubuh tandus saya. Saya nikmati pula kolam renang
yang membentang di pekarangan rumah saya. Seperti saya menikmati kamar
tidur bertivi sebesar gajah. Juga menikmati beranda rumah dijejeri
mobil mewah.
Sriti: Jadi benar! Anda seorang yang kaya raya...
Hasan: ...betapa kaya raya saya! Sebab saya dengan segala
upaya harus mengenal tokoh cerita saya satu persatu. Tokoh cerita yang
hadir dengan segala tingkah-gelagatnya. Bukankah demi kisah yang
mantap, saya harus mengenal watak tokoh cerita saya, harus tahu
rencah-tabiatnya, tahu keluh-kesahnya, tahu ria-citanya, tahu
palung-terjal hatinya, juga kekurangan dan kelebihannya. Maka untuk
itu, tentu saya harus kaya data, kaya fakta, kaya referensi, kaya baca,
kaya keingintahuaan, kaya proses, kaya kesabaran, kaya kreativitas,
lantas saya musti kaya imajinasi demi merampungkan sebuah fiksi yang
berkualitas.
Sriti: Kalau dalam kondisi terbalik?
Hasan: Seorang hartawan dengan limpahan uangnya memang bisa
menjadi apa saja, bisa pergi ke mana-mana, tetapi sudikah ia menjadi
pengamen, pengunyah bangkai tikus, lelaki yang menjerat leher sendiri,
pemabuk atau penzina laknat, pelacur beraroma kencur, veteran tanpa
uang, atau lainnya? Bersediakah ia tinggal di rumah beratap kardus,
makan siang di kolong jembatan, buang hajat di ngarai sungai berlimbah,
atau minum kopi di depan jamban pecah? Jawabannya: Saya ragu! Mungkin
jadi, untuk memikirkannya pun seorang hartawan betapa enggan. Mungkin
jadi ia bakal menggigil, mengerang, lantas mati dengan mata terjungkal!
Bagi hartawan, hal itu bukan kerjaan. Dosa besar, dan sia-sia!
Sriti: Kongretnya...
Hasan: Maka, katakan, siapa yang lebih kaya dan bahagia, saya atau para hartawan itu?
Sriti: Siapa orang yang sangat berjasa dalam pola kepenulisan cerpen Anda sekarang?
Hasan: Banyak pihak yang berjasa membentuk riwayat
kepenulisan saya. Pada dasarnya saya menghargai semua penulis. Penulis
yang bagus maupun yang tidak bagus. Penulis bagus membuat saya iri, dan
bergegas menyainginya. Penulis yang tidak bagus membuat saya bisa
belajar dari ketidakbagusannya. Saya belajar dari banyak penulis lokal
maupun nasional, baik secara langsung maupun melalui referensi karya
dan proses krativitasnya. Saya menampung banyak hal dari mereka,
kemudian meleburnya dalam diri saya, berbenturan satu sama lain, dan
akhirnya melahirkan identitas kepenulisan tersendiri dari saya. Tetapi,
sejatinya, pola kepenulisan bagi saya sangat fleksibel, rawan
pergeseran.
Sriti: Apa pengaruhnya bagi Anda sendiri?
Hasan: Terkadang, saya berpikir, bahwa saya lebih banyak
mengadopsi beragam semangat para penulis dalam berkreativitas ketimbang
tindak-tanduk pola dalam hasil karya penulis-penulis tersebut.
Sriti: Siapa saja mereka itu?
Hasan: Di permulaan proses kepenulisan saya, nama Seno Gumira Ajidarma dan AA. Navis senantiasa menyita perhatian.
Sriti: Bagaimana Anda melihat khazanah cerpen Indonesia sekarang?
Hasan: Mmh... Saya bingung menjawabnya. Menurut saya
tidak ada kemutakhiran murni. Yang ada adalah pergumulan tiada henti,
dan melahirkan hal-hal yang lebih segar, beragam, dan kadang
mengejutkan. Pergumulan tiada henti itulah kemutakhiran!
Sriti: Sedikit komentar sajalah...
Hasan: Di sisi lain, ada hal yang menggangu saya, bahwa
banyak penulis terlampau gemar berkomentar bahwa dunia tulis-menulis
tidak dihargai. Cengeng itu! Tiap-tiap bidang sudah ada massanya, sudah
ada pengagumnya. Lebih baik menghabiskan energi untuk melahirkan karya,
daripada merengek-rengek minta dihargai. Masalah harga-menghargai tidak
akan selesai dibahas sampai kiamat. Penghargaan muncul dari pandangan
khalayak terhadap karya, bukan karena niat agar dihargai.
Sriti: Optimis sekali, ya?
Hasan: Bagi saya, karya yang dengan ditulis dengan
kesungguhan, kejujuran, kerja keras akan menjemput pujian. Jadi, tak
akan hilang dunia tulis-menulis dari bumi.
Sriti: Secara umum, bagaimana Hasan melihat cerpen, kshusnya cerpen koran kita saat ini?
Hasan: Lebih beragam, meskipun secara umum, tidak ada hal
yang benar-benar baru. Kebaruan lahir upaya kreativitas pengarang
terhadap bentuk-bentuk yang lampau. Secara pribadi sangat besar.
Karena koran merupakan media yang membantu "menjual" nama pengarang ke
khalayak.
Sriti: Apa alasannya?
Hasan: Ada dua alasan mengapa media koran ditasbihkan sebagai
media pemenang dalam pemuatan hasil-hasil sastra. Pertama,
mempublikasikan karya sastra lewat media buku membutuhkan biaya besar
dengan risiko kerugian besar pula. Maka tidak heran, jika penerbitan
miskin minat untuk membukukan hasil sastra. Kalaupun ada beberapa buku
sastra yang terbit, bukankah kebanyakan bahannya berasal dari
karya-karya yang sudah diterbitkan koran. Berarti, dalam kasus ini,
buku pun sudah menderita kekalahan dari koran. Paling tidak,
"didahulukan koran". Kedua, media majalah yang tentu tidak sanggup
menampung "birahi" berkarya para pengarang. Selain hanya terbit sebulan
sekali, coba sebutkan, ada berapa jumlah majalah sastra di Indonesia?
Hampir tidak jauh berbeda, jurnal yang terbit secara berkala dianggap
tidak memberikan ruang yang memuaskan hasrat pengarang.
Sriti: Jadi "sastra koran" lebih menguntungkan?
Hasan: Maka setuju atau tidak setuju, banyak pengarang sastra
telah menempatkan koran sebagai media incaran nomor satu untuk
memampangkan karya-karyanya. Alasannya, koran menjamur, rubrik sastra
terbit seminggu sekali (bahkan seminggu dua kali), koran mudah
diperoleh, dan biayanya murah. Tentu peluang untuk dibaca khalayak
sangat besar, kemudian akan dibicarakan baik buruk kualitasnya.
Intinya, koran memiliki andil besar dalam merawat pertumbuhan karya
sastra, sekaligus perkembangan apresiasinya.
Sriti: Berapa cerpen yang selama ini pernah Anda tulis?
Hasan: Lebih kurang 50 cerpen. Hampir semua telah dipublikasi di media lokal dan nasional.
Sriti: Apakah cerpen yang pernah dipublikasikan di media
cetak terlebih dahulu punya mutu lebih baik dari cerpen yang langsung
dibukukan?
Hasan: Tidak juga. Tetapi tidak dapat dimungkiri, jika koran
menjadi ajang pemanasan publikasi sebelum terjun ke sebentuk buku.
Memang, pada akhirnya, pengarang harus berjuang mengakali ruang sempit
yang disediakan koran, kalau tidak mau dikatakan mengorbankan kekuatan
karya demi dimuat di koran. Selain itu, bukankah pengarang untung dua
kali dengan terlebih dahulu dihamparkan di koran?
Sriti: Bisa diceritakan sedikit, supaya pembaca kami punya
acuannya... Sedikit contoh tanpa perlu sungkan menyebut contoh cerpen
dan media bersangkutan. Semacam untuk pembelajaran pembaca muda kami...
Hasan: Soal baik tidak baik, itu relatif. Termasuk baik di sebuah media, belum tentu baik bagi media lain. Cerpen saya Tiurmaida telah memberi bukti. Semula saya mengirimnya untuk diseleksi dalam Sayembara Cerpen Festival Kreativitas Pemuda yang diadakan CWI, tetapi gagal masuk 30 besar. Tiurmaida saya angsur ke Media Indonesia. Hasilnya, tidak dimuat-muat. Saya nekat mengirimnya ke harian Kompas, dan dimuat. Malah Tiurmaida terpulih masuk 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008
versi Anugerah Pena Kencana. Tentu, saya tidak mengatakan juri
sayembara atau redaktur Media Indonesia salah besar tidak memihak Tiurmaida. Tentu pula saya bukan sedang menyatakan bahwa Kompas
dan dewan juri Anugerah Pena Kencana sebagai media yang baik dan
pengadil karya yang mentap. Tetapi, betapa fleksibelnya penilaian
khalayak terhadap karya sastra, termasuk cerpen. Cerpen koran tidak
serta-merta lebih baik dari cerpen buku. Pun begitu sebaliknya, cerpen
buku bukan garansi kebagusan sebuah karya sastra.
Sriti: Bagaimana "tren" cerpen koran Indonesia di masa yang akan datang?
Hasan: Tema faktual masih tetap mendominasi. Karena apa?
Karena koran adalah media yang karib dengan fakta. Begitupun, banyak
pengarang yang tidak akan menyerah pada kefaktualan semata. Banyak
pengarang akan terus menanak kreativitas demi pengayaan bentuk-bentuk
karya yang lebih berwarna, tetapi tetap memberi sentuhan keaktualan.
Bahkan, semaksimal mungkin, nilai aktual dalam karya bersembunyi di
palung terdalam.
Sriti: Apakah ada teknik khusus dalam menulis cerpen?
Hasan: Saya akan memulai dari kenyataan jika saya orang yang tidak suka dengan istilah mood dalam
menulis. Saya pun tidak memiliki jadwal untuk menulis. Kapan saya ingin
menulis, maka saya akan menulis. Saya orang yang tidak mudah menghapal.
Tetapi itu tidak berlaku ketika saya menyimpan banyak inspirasi di
kepala. Kepala saya setiap saat menulis. Nah, tinggal menuangkannya
saja saya yang butuh waktu. Waktu itu bisa pagi, siang, sore, malam,
dini hari, ketika hening atau hirik-pikuk.
Sriti: Kongretnya seperti apa...
Hasan: Begitu juga dengan masalah teknik, saya hampir tidak
memedulikan teknik tertentu dalam menulis. Saya berupaya untuk tidak
beranjak dari tetek-bengek teknik dalam menghasilkan sebuah karya. Lain
karya, lain pula teknik dan proses kreativitas saya. Malah, kadang
waktu, saya merasa teknik adalah penjara!
Sriti: Dari mana datangnya itu...
Hasan: Bagi saya, teknik datang dari dalam diri saya. Ya,
tentu saja teknik-teknik yang pernah saya baca turut memengaruhi proses
saya dalam menanak karya. Namun, saya senantiasa menempatkan diri jika
saya tidak memulai dari teknik, tetapi bisa jadi hati, rasa, hasrat.
Entahlah...
Sriti: Soal ide, dari mana bisanya ide itu datang?
Hasan: Dari kegelisahan!
Sriti: Bisa dijelaskan detailnya? Biar pembaca kami puassss...
Hasan: Kegelisahan adalah api-periuk karya-karya saya. Saya
senantiasa bersuka-cita andai kegelisahan masih terus mengepul dari
diri saya. Kegelisahan adalah muasal inspirasi. Tentu kegelisahan
tentang apa saja. Kegelisahan yang datang dari mesin kepekaan saya
sebagai manusia. Sastrawan itu tidak bisa tidak harus tetap
menghidupkan, merawat, dari mencintai mesin kepekaannya. Kegelisahan
bagi saya tidak semata harus ditunggu, tapi diintai, diburu, disergap,
lantas ditangkap. Semisal saya sedang duduk di hamparan Danau Toba yang
luar biasa itu, namun mesin kegelisahan tidak dinyalakan, maka saya
tidak akan menemukan sejinjing inspirasi pun. Danau Toba menjelma
hamparan yang tak berarti. Sebaliknya, tatkala saya duduk di sepencil
tempat, dan di hadapan saya ada sebuah lobang semut, namun mesin
kegelisahan saya sedang giat bekerja, maka saya bakal dikerubungi
inspirasi. Lantas saya disengat ribuan inspirasi, saya terluka, saya
berdarah-darah, saya menggelepar, terkapar. Seterusnya, darah saya yang
mengucur, daging saya yang menyerpih berangkat ke tubuh karya. Karya
yang dialiri darah, karya yang memilik nadi, karya yang berdaging dan
berbentuk.
Sriti: Dari sejumlah cerpen yang ada di Sriti, Anda kelihatan tekun, ya...
Hasan: Saya termasuk sabar dalam menulis cerpen, maka
terkesan tidak produktif. Banyak cerpen yang memiliki usia proses 2
atau 3 tahun sejak kemunculan ide sampai perampungannya. Bukan berarti
selama 2-3 tahun saya intens menggarapnya. Tetapi saya intens melacak,
melengkapi segala hal terkait data, karakter, ruh karya tersebut.
Ketika hal tersebut sudah rampung, saya menggarapnya dalam hitungan
hari, bahkan hitungan minggu.
Sriti: Ada patokan khusus?
Hasan: Saya senantiasa memiliki patokan sendiri terhadap
kualitas karya-karya saya. Jika patokan tersebut belum terpenuhi, maka
saya akan tetap menyimpannya. Saya termasuk tidak obral dalam
memublikasikannya.
Sriti: Apa harapan seorang Hasan Al Banna?
Hasan: Cita-cita saya ingin segera diwujudkan adalah
menerbitkan kumpulan cerpen/puisi tunggal. Saya memiliki sebuah
manuskrip cerpen berjudul Pasar Jongjong. Terdiri dari 16 cerpen yang sudah dipublikasikan di media nasional semacam Kompas, Horison, Suara Merdeka, Koran Tempo, dan media lokal Analisa, Andalas dan Waspada. Penerbit MataKata (Budi P Hatees) menyatakan ketertarikannya...
Sriti: Selain cerpen?
Hasan: Saya juga memiliki manuskrip puisi berjudul Merayakan Rindu. Tentu saja masih tetap setia menunggu untuk masuk ke rumah buku.
Sriti: Tidak ada keinginan membuat novel?
Hasan: Sampai saat ini, menulis novel bagi saya masih belum
beranjak jauh dari sebuah tekad. Tetapi saya memiliki sebuah manuskrip
berisi esai-esai tentang kebahasaan dengan judul Bidan Pengantin.
Sriti: Ada seorang pembaca Sriti yang kesulitan mencari alamat blog Anda...
Hasan: Boleh dibilang, saya otodidak belajar teknologi,
termasuk komputer dan perangkatnya. Saya sedang belajar membuat blog,
tetapi belum rampung. *** Chusnato
Hasan Al Banna
Panggilan: Hasan
Tempat/tanggal lahir: Padangsidimpuan, 3 Desember 1978
Pendidikan:
- SDN Padangsidimpuan (1985-1991)
- MTsN Padangsidimpuan (1991-1994)
- MAN 1 Padangsidimpuan (1994-1997)
- Program S1 Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Universitas Negeri Medan (1998-2003)
Keluarga:
- Ayah; Emsi (alm.), Ibu; Darlis
- Istri: Dewi Haritsyah Pohan
- Anak: Embun Segar Firdaus.
Pekerjaan:
- Staf Balai Bahasa Medan, Depdiknas.
Kegiatan lain:
- Instruktur Pelatihan Kepenulisan Fiksi dan Non Fiksi, dan Pekerja Teater.
- Home Poetry, dan sebagai dewan kehormatan di Forum Lingkar Pena Sumut.
- Mulai menulis puisi, cerpen dan esai sejak bergabung dengan Teater LKK Unimed tahun 1999, antara lain menyebar di Mimbar
Umum, Analisa, Waspada, Medan Bisnis, Sumut Pos, Sumatra, Medan Pos,
Harian Global, Andalas, Riau Pos, Sagang, Sabili, Lampung Post, Suara
Pembaruan, Republika, Suara Merdeka, Koran Tempo, Kompas, Horison, Tapian, dan Gong.
Sejumlah karya:
- 50 Botol Infus (Teater LKK UNIMED:2002)
- Gapai Rindu (Basastrasia UNIMED:2003)
- Amuk Gelombang (Star Indonesia Production:2005)
- Ragam Jejak Sunyi Tsunami (Balai Balahasa Medan:2005)
- Dian Sastro for President! End of Trilogy (Insist Press:2005)
- Jogja 5,9 Skala Richter (Bentang:2006), Medan Puisi (2007)
- Medan Sastra (TSS-TSSU:2007)
- Tanah Pilih (Disbudpar Jambi:2008)
- Kenduri Puisi (Ombak:2008)
- Antologi 30 Terbaik Lomba Cerpen Tingkat Nasional Festival Kreativitas Pemuda 2004: Dari Zefir sampai Puncak Fujiyama (CWI:2004)
- Rebana (Analisa:2006)
- Denting (DKM:2006)
- Merantau ke Atap Langit (Teater LKK UNIMED:2008)
- Antologi esai peserta Program Penulisan Esai Mejelis Sastrawan Asia Tenggara (MASTERA): Jendela Terbuka (Pusat Bahasa:2005).
- Salah satu cerpennya berjudul Tiurmaida terangkum dalam antologi 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 (PT. Gramedia Pustaka Utama:2008) versi Anugerah Pena Kencana Award.
Kerja Budaya:
5 (lima) judul buku sastra rekomendasi Hasan Al Banna
Kumpulan cerpen Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi karya Seno Gumira Ajidarma.
Kumpulan cerpen Matinya Seorang Buruh Kecil karya Anton Chekhov.
Kumpulan Cerpen Memorabilia karya Agus Noor.
Kumpulan Cerpen Iblis Ngambek karya Indra Tranggono.
Kumpulan Cerpen Robohnya Surau Kami karya AA. Navis.
Cerpen-cerpen Hasan Al Banna di Sriti.com
Kontak Hasan Al Banna
- Alamat Surat: d.a Balai Bahasa Medan, Jalan Kolam (Ujung) No. 7, Medan Estate, Medan
- Email: hasanalbanna_mdn-at-yahoo-dot-com
|