Sriti.Com
 
   

» Ucu Agustin
Kanakar
Mahatari, 2005

"... dia adalah seorang feminis praktis melalui karya ..."

Sriti.com. 24-06-2005. Di saat-saat kemarau kerontang penulis perempuan, kehadiran Ucu Agustin terasa bagai setetes embun penyejuk dalam kancah kreativitas sastra kita. Ucu yang terlahir 19 Agustus 1976 di Sukabumi, Jawa Barat itu baru saja menerbitkan kumpulan cerita pendeknya, di bawah judul Kanakar Kupulan Cerpen Ucu Agustin. Mestinya judul itu menjelaskan, Kanakar dan 17 Cerpen lainnya.

Sebab, Kanakar bukanlah judul semua cerita pendek, melainkan hanya judul untuk sebuah cerpen di antara yang lain. Judul Kanakar itu bagi saya juga kurang tepat. Mungkin, saya pikir, Kanakar dipilih sebagai judul buku karena itu yang terbaik. Mungkin bagi penulisnya sendiri. Tetapi bagi saya Kanakar bukanlah cerpen terkuat dalam kumpulan tersebut. Saya cenderung memilih judul Aku ingin Memenggal Kepala Ayah. Itu pun bukan tanpa catatan.

Sikap saya terbelah dua menghadapi cerpen Aku ingin Memenggal Kepala Ayah (AIMKA). Pertama, judulnya itu terlalu tidak manusiawi. Haruskah karya sastra bersikap pro kekerasan dan menyodorkan proyek dehumanisasi. Bagi saya karya seni mempunyai potensi untuk mengajurkan hal-hal yang memuliakan manusia dalam berbagai segi dan dimensinya. Membunuh orang, apalagi memutilasi jenazahnya, apalagi itu ayah kandungnya sendiri, merupakan suguhan yang memancing penolakan dari bathin saya.

Tetapi apa boleh buat. Saya harus menghadapi diri saya sendiri, setelah usai membaca AIMKA. Cerita yang sangat dramatik itu menguraikan tuntas dan jelas, proses pertumbuhan jiwa seseorang, yang dibentuk oleh multiunsur yang datang serempak sepanjang zamannya, sehingga ia tak bisa lain, kecuali menjadi dirinya sendiri. Dan jangan terkejut, bila diri Anda justru persis seperti karakter orang yang Anda benci, Anda lawan bahkan Anda bunuh..

Judul Saya ingin Memenggal Kepala Ayah juga ternyata tidak tepat. Sebab yang terjadi dalam cerpen itu, kepala ayah benar-benar sudah dipenggal oleh anak kandungnya itu. jadi judul yang benar adalah: “Saya telah Memenggal Kepala Ayah”. Tetapi bagaimanapun judul yang begitu keras, dramatik itu hanya menunjukkan kelembutan hati penulisnya, sekaligus mengindikasikan bahwa dia adalah seorang feminis praktis (bukan teoritis) melalui karya yang begitu memukau. Memberikan keindahan penikmatan.

Kelebihan Ucu Agustin dibanding para pendahulunya ialah, kekuatannya mempermainkan kata dan kalimat sehingga menjadi ungkapan yang literer, padahal ia hanya menggunakan kata-kata harian, tanpa bumbu berbau eksentrik dan juga tidak mengobral kata-kata sulit. Barangkali, kekuatannya akan metafora, yang pada penulis lain (laki/perempuan) tidak maksimal memanfaatkannya.

Kekuatan pelukisan dan kecanggihannya bergaya bahasa, membuat Ucu Agustin itu melampaui penulis-penulis kolot seperti Putu Wijaya, N.H. Dini, Tohari, Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu. Bahkan kemampuan Ucu Agustin sebagai arsitek bangunan struktur ceritanya, juga melampaui penulis-penulis masa kini yang cerpen-cerpennya dimuat di koran mingguan Jakarta seperti: Isbedy Stiawan, Martin Aleida, Eka Kurniawan, Puthut EA, Arie Tamba dan lain-lain.

Kalau saya harus membandingkan cerpen Kanakar dengan Aku Ingin memenggal Kepala Ayah, terus terang aku harus berkata begini. Kanakar adalah sesuatu yang lamat-lamat, tidak jelas. Tetapi, memang keindahannya itu justru terletak dalam ketidakjelasanya. Di dalam disuguhkan kisah lama dari mitologi-mitologi Yunani Kuno dan segalanya membuat kita merasa ringan, mengambang dalam dunia abstrak, maya, meski dalam pesona abadi.

Di pihak lain, Aku Ingin Memenggal Kepala Ayah adalah sebuah kisah tentang kasus-kasus psikologis, yang layak ditinjau dari sudut pandang Freudian dan Lacanian. Di sana jugaada protes, protes keras, bahkan tentang perlakuan lelaki sebagai suami atau ayah yang tiranik hegemonik. Dimensi kekerasan absolut itulah yang ditanggapi dan dilawannya. Kekerasan dilawan dengan kekerasan, yang mungkin saja lebih keras, lebih sadis lagi.

Cerita pendek berjudul Kutu di Kepala Suamiku, bisa mengecoh pembaca, seolah ingin mengisyaratkan sesuatu yang sepele, sepi dari nilai-nilai. Tidak. Tidak demikian. Cerpen ini berkisah tentang perceraian. Dan, tentu saja, tidak ada orang yang bilang bahwa perceraian itu adalah sesuatu yang sederhana. apalagi, sebagai pemeluk teguh agama tertentu, perceraian adalah sesuatu yang tidak bisa dibenarkan.

Perempuan itu, yang sering dan selalu dihajar fisik oleh suaminya, sesuai ajaran yang jadi anutannya, teguh yakin pada pendiriannya berucap: tapi aku tetap bertahan. Bukankah seperti sanda Tuhan, cinta dan pernikahan hanya satu kali, dan siapa yang memutuskannya berarti memutuskan tali suci? Tetapi ternyata baginya, siksa keji kuat ketimbang keyakinan. Akhirnya ia bercerai dari suaminya.

Cerpen ini sebenarnya gunting berujung dua, sekali tusuk terkena dua arah: Suami dan Ayahnya. Dengan kata lain, keduanya adalah lelaki yang jadi obyek serangan Ucu Agustin. Ayahnya, dulu, membunuh istrinya secara pelan-pelan dengan siksaan yang tajam dan laju. Sedangkan suami, menyiksa istrinya sehingga ia harus meminta cerai, sebelum terbunuh oleh ganasnya kekejian yang panjang dan dalam, seperti yang diderita ibunya. Di sini perceraian adalah bentuk perlawanan perempuan. Dalam hal ini berlakulah ungkapan lama: ketika pernikahan telah berubah menjadi neraka, perceraian adalah satu-satunya jalan penyelesaian.

Meskipun cerpen ini tidak lain adalah sebuah potret kehidupan sosial, Ucu Agustin mengharapkan dengan mengandalkan keampuhan metafora. Misalnya, dalam kalimat ini: seperti yang dikatakan oleh ibunya, lelaki suamiku memang kerap mengeluarkan banyak binatang dari tubuhnya. Selama kami menjalani pernikahan, tak terhitung lagi jumlah binatang yang telah diperkenalkannya kepadaku, aku pun kadang tak tahu dan kerap lupa nama-nama binatang yang satu persatu telah ia ujukkan di depan hidungku.

Ungkapan seperti itu, jarang sekali terdapat pada penulis lain, sebelum atau seangkatannya. Begitu khas Ucu. Ucu kadang juga cerdas dalam membangun suspens dalam ceritanya. Itu bisa dirasakan misalnya, dalam cerpen berjudul Yang Membatu, kisah tentang patung-patung dari batu. Tetapi satu patung ternyata bisa menangis, mengeluarkan air mata darah. Patung batu yang dikenal Herlita, bahkan mampu mengeluarkan ruh yang menjumpai wartawan yang baru saja memotretnya itu. ruh manusia di balik patung itu mengira, Herlita adalah Abigail, kekasihnya yang selama ini diburunya dan tak pernah jumpa kembali. Cara bertutur Ucu Agustin di sini juga cukup unik. Seperti ada adsurditas, seperti ada mitos bahkan magis.

Namun, dari sosok-sosok dan struktur serta gaya sastranya, Ucu agustin bukanlah penulis yang tergolong penempuh jalan realisme magis (magic realism). Ia, kiranya lebih cocok disebut sebagai penempuh aliran magisme imajiner. Banyak yang tidak masuk akal (ratio) tetapi tetap saja bisa diterima bahkan dinikmati sebagai karya literer. Pada cerpen Yang Membatu itu, klimaks dan suspens bertumpu pada akhir cerita itu memberikan kelezatan pada perasaan penikmatnya.

Namun, kecermatan dalam berbahasa dan kejeliat editing masih persoalan. Ada kata tertulis ‘membumbung’, yang seharusnya ‘membubung’. Bubungan artinya bagian tertinggi pada genteng atap rumah. Membubung berarti makin tinggi dan makin tinggi.

Saya pikir ada baiknya, Ucu Agustin segera saja membuat novel. Banyak hal yang tak terselesaikan dalam cerpen, mungkin akan tuntas dalam novelnya. Dari kekuatan dan langgam gaya tulisannya, Ucu Agustin punya nafas cukup panjang, yang dituntut bagi para novelis kita. Jika Ucu Agustin berhasil melahirkan novelnya, ia akan menjadi novelis kita. Jika Ucu Agustin berhasil melahirkan novelnya, ia akan menjadi novelis pertama yang memiliki kesegaran daya ungkap, yang cerdas berkat wawasan yang luas serta memiliki apa perlawanan terhadap kemampuan dan kebusukan hegemoni tiranik kaum lelaki.

Selamat datang Ucu Agustin, selamat menapali lancah sastra kita… *** Sides Sudyarto


 


Warning: include(footerPop.php) [function.include]: failed to open stream: No such file or directory in /home/sriti/public_html/articles_SritiKanakarUcuAgustin.php on line 144

Warning: include(footerPop.php) [function.include]: failed to open stream: No such file or directory in /home/sriti/public_html/articles_SritiKanakarUcuAgustin.php on line 144

Warning: include() [function.include]: Failed opening 'footerPop.php' for inclusion (include_path='.:/usr/lib/php:/usr/local/lib/php') in /home/sriti/public_html/articles_SritiKanakarUcuAgustin.php on line 144