|
Masih ingat "Tujuh Tahun Sriti.com dan Puthut EA? Waktu itu kami menyodorkan ke beberapa pembaca Sriti.com dan muncullah nama Puthut EA (20%), M. Dawam Rahardjo (15 %), Gunawan Maryanto (12%), Ratna Indraswari Ibrahim (12%), Eka Kurniawan (10%) dalam daftar cerpenis yang paling disukai.
Dari beberapa masukan ke Sriti.com, ada yang manggut-manggut sepakat dan tidak sedikit yang bertanya "mengapa Puthut EA?"
Sebenarnya, seberapa terkenal sosok Puthut EA itu? Google mencatat sekitar 1.500-an halaman di internet yang memuat kata "Puthut EA" secara utuh (bukan "EA Puthut" atau "Puthut bla bla EA." Sedangkan Yahoo, mencatat 600-an situs saja. Nama ini tercantum di berbagai macam situs, mulai dari situs yang memuat kritik sastra maupun celotehan blog.
Coba tengok beberapa tautan ini bila Anda malas bertanya pada Google atau Yahoo.
Ada yang mencoba bertanya pada Puthut EA dan tanpa ada satu kalimat pertanyaan pun di blog milik Kania ini. Ada juga yang mencoba membandingkan cerpennya dengan karya Eka Kurniawan atau memasukkan Puthut EA sebagai sastrawan masa depan Indonesia. Foto yang terpampang di sini juga merupakan hasil bidikan penggemar Puthut EA. Aida, mengaku sangat menyukai cerpen-cerpen Puthut EA. Selain puja-puji, tentu ada juga kritikan, misalnya di situs sabdaspace. Tapi satu hal yang cukup banyak dibicarakan di banyak blog adalah saat dia berkoar hendak menerbitkan buku sendiri.
Sebagai pembanding komentator Internet tadi, kami mencoba bertanya pada Arie MP Tamba. Penulis ini mengomentari tentang kecenderungan Puthtut pada cara bertutur magic realism yang banyak digunakan di Amerika Latin. "Buat Amerika Latin, itu cocok," kata Arie MP Tamba. Untuk Indonesia? Ia tidak banyak berkomentar. Ia membandingkan ada kemiripan antara Eka Kurniawan dan Puthut saat menggunakan magic realism ini. Sekadar mengingatkan, mereka berdua pernah tergabung dalam institusi yang sama (bumimanusia.or.id dan majalah On/Off). Kelemahan magic realism, menurut Arie, adalah kurangnya perhatian terhadap plot. Yang ada adalah permainan kata-kata.
Terlepas Anda berada di kubu penyuka atau pembenci, maka, tidak ada salahnya jika kami mengajukan beberapa pertanyaan sederhana kepada Puthut EA. Ada tiga belas pertanyaan yang (sangat) mungkin tidak memuaskan para penggemar maupun kritikus sastra.
Dengan pengeditan seminal mungkin (tanda baca), inilah 13 pertanyaan/jawaban melalui e-mail dengan Puthut.
Tentang kata-kata
Sejak kapan terobsesi dengan kata-kata?
Sejak bisa membaca kali ya... Seperti kebanyakan orang
yang suka menulis, saya juga suka membaca. dan sejak
suka membaca, saya suka dengan kata-kata.
Pernahkan Anda membayangkan diri Anda BUKAN
sebagai cerpenis?Mungkin saudagar kaya? Bintang film Hollywood? Atau apa saja?
Saya malah jarang membayangkan diri saya sebagai
penulis atau cerpenis. saya paling suka membayangkan
diri saya sebagai pembunuh bayaran, atau perampok
bank, atau detektif partikelir. saya dulu sering
membayangkan jadi teroris, tapi ngeri setelah ada bom
yang meledak di bali... mungkin kalau teroris yang
membajak kapal pesiar asyik juga kali ya...
Bagaimana proses kreatif Anda berjalan? Apakah
inspirasi datang tiba-tiba? Muncul diam-diam? Atau telah direncanakan
sedari awal dengan jadwal yang konstan?
Saya merencanakan. Saya bukan orang yang diberkahi
keajaiban inspirasi.
Bagaimana hubungan Anda dengan tokoh-tokoh yang
tercipta? Adakah tokoh-tokoh itu nyata dan bisa diajak ngobrol sembari minum bir? Tokoh yang bisa diajak bercinta siang malam? Atau, tokoh yang sekadar artefak imajinasi?
Pertanyaan Anda agak sulit dijawab, tapi kira-kira begini: tidak ada tokoh saya yang benar-benar ada, sekaligus tidak ada tokoh-tokoh saya yang benar-benar tidak ada.
Tentang Anda
Boleh tahu tempat dan tanggal lahir? Kapan?
Rembang, 28 Maret 1977.
Apakah menjadi cerpenis itu bagian dari cita-cita?
Ya, setelah saya tahu menjalani pekerjaan-pekerjaan di atas
(yang sudah saya sebut) adalah hal yang muskil. Saya kira, menjadi penulis tetap saja pekerjaan yang seksi dan memikat. Gak perlu bertemu banyak orang, satu dari sekian banyak hal yang tidak saya sukai dalam hidup ini.
Dari hidup Anda yang terjalani, sisi hidup mana yang paling
inspiratif? (mungkin masa kanak-kanak, masa remaja, masa
berpetualang)
Saya bersyukur, sejak kecil sampai sekarang, seluruh
kehidupan saya sangat menarik, tentu saja bagi diri
saya sendiri.
Siapa sastrawan yang Anda sukai?
Banyak banget. Tapi saya sebut beberapa orang
yang dari Indonesia ya... dari beberapa generasi;
Pramoedya, Gunawan Mohamad, Seno Gumira, Dewi Lestari.
Apa judul cerpen pertama yang Anda buat?
Judulnya: "Ruang Tunggu Waktu". Karya ini pula yang saya
kirim pertama kali di Kompas, dan ditolak. Karya ini
terdapat di buku kumpulan cerita pendek saya yang
pertama: "Sebuah Kitab yang tak Suci".
Cerpen Anda yang mana yang paling berkesan?
"Ibu Pergi ke Laut". Cerpen itu ada di kepala saya
selama beberapa bulan (semenjak tragedi tsunami
terjadi di Aceh), tetapi setelah saya tulis selalu
gagal. Saat saya bikin untuk yang kesekian kali (versi
terakhir yang dimuat di Kompas), sekali sentuh kurang
dari sejam selesai. senang mengikuti dan mengawal
prosesnya.
Apa obsesi Anda sekarang?
Saya ingin belajar menulis puisi dan berlatih menukang
kayu, kayaknya asyik juga, menggergaji dan memaku...
Tentang apapun
Syahdan, Anda mendapat pekerjaan menulis novel
dari sinetron "Bunda". Benarkah? Boleh tahu honornya? (pertanyaan
kurang ajar, ya?)
O itu soal hubungan 'korps' saja. mas Rudy Gunawan
adalah kakak tingkat saya. Jadi begitu dia yang
nawarin ya saya mau. dalam kehidupan sehari-hari dan
hubungannya dalam menulis, hal-hal seperti itu tidak bisa
saya hindari. menerima sesuatu bukan karena apa
melainkan karena siapa. Honornya 5% dari harga jual
buku, sebetulnya 10% tapi harus dibagi dengan penulis
skenarionya.
Menurut Anda, apakah sastra bisa masuk kategori
sebagai "agama"?
Semoga tidak ya. Agama-agama yang sudah ada saja sudah
bikin pusing, apalagi harus diperbanyak lagi.
penulis dan pewawancara: Anggoro Gunawan
Anda bisa melihat cerpen-cerpen Puthut EA di sriti.com. Silakan menyimak.
|